“Charles” yang tak pernah berhenti

Dia bukanlah siapa-siapa. Charles yang dimaksud di sini bukanlah Pangeran Charles. Charles yang selau berteriak di kala hari masih fajar itu adalah Charles dari Pulau Lae-lae. Charles yang kukenal ini, hanyalah seorang anak yang mulai beranjak remaja di pulau Lae-lae. Aku memperhatikannya sejak 2 tahun lalu, sejak aku “resmi” menjadi “penghuni” pulau ini.

Belum jam 06.00 pagi Charles sudah mulai “on fire”. Dia bangun di pagi hari dan mulai menyiapkan perlengkapannya. Sepeda butut tak berantai dengan roda yang bengkok tapi masih cukup mampu berputar. Sebuah keranjang kecil di belakang terbuat dari papan yang dilapisi terpal. Bapaknya menyiapkan Ikan-ikan yang akan dijual dan Segera saja Charles meluncur dan berputar mengitari kampung.

Juku..(Ikan)..!!! Suara khasnya membelah pagi. Masih jarang sebayanya di pagi yang dingin itu. Barangkali masih berkutat dengan bantal guling mereka. Yang ada malah ibu-ibu, yang membalas teriakan Charles dengan panggilan “juku apa n tu” (ikan apa itu)…Hingga matahari mulai meninggi Charles masih berputar untuk menghabiskan stok ikannya.

****

Sempat kutanyakan ke istriku, kenapa anak itu dipanggil Charles…Entahlah, awalnya sih saling meledek diantara anak-anak sebayanya. Akhirnya panggilan itu melekat terus..

****

Belum setengah hari pikiranku terpaku pada angan-angan tentang Charles. Sesaat hari siang dan makin meninggi, di tepi pantai kutemui sosok yang sedang mendorong perahu dengan tongkat. Biasanya seperti itulah yang dilakukan jika akan membawa perahu ke tengah untuk menyalakan mesin. Sosok yang mendorong perahu itulah yang menarik perhatianku ”lagi”. Si Charles.

Biasanya dia ikut membawa perahu ”sekoci” untuk penyeberangan dari dan menuju Makassar. Ikut dengan kakaknya. Sepanjang terik siang sampai sore mulai menjelang malam Charles membawa perahu.

****

kemiskinan, keterbelakangan, aparat.
Berbicara tentang kemiskinan memang tiada habisnya. Sebuah masalah klasik yang mempunyai sejarah hampir seumuran peradaban manusia. Solusi bukannya tidak ada, tetapi karena sistem strata sosial yang berlaku di masyarakat, maka kemiskinan ini menjadi lestari sampai sekarang. Kemiskinan itu sendiri selalu berkutat pada ketidakmampuan manusia terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan. Dalam kondisi seperti sekarang dimana harga kebutuhan dasar terus naik, maka gaung kemiskinan semakin nyaring didengar. Antri minyak goreng, antri minyak tanah, antri beras Raskin, Antri Bantuan Langsung Tunai, antri sumbangan/sedekah merupakan hal nyata bahwa kemiskinan semakin menemukan bentuknya pada komunal dengan jumlah yang lebih banyak. Lebih bagus kemudian jika digelari sebagai ketidakberdayaan yang massal dan massive.

Parahnya, upaya pemerintah dalam memberantas kemiskinan semakin tidak jelas arahnya. Meskipun komitmen pemerintah untuk memberantas kemiskinan selalu dicantumkan dalam RAPBN dengan kucuran dana yang selalu naik dari tahun ke tahun. Alih-alih jumlah kemiskinan tertanggulangi, malah jumlah orang miskin dan pengangguran malah makin bertambah. Tak terlihat korelasi yang jelas antara besarnya dana yang dikucurkan oleh pemerintah dengan menurunnya tingkat kemiskinan.

Ada yang salah ? Sepertinya iya. Penyaluran bantuan untuk penanggulangan kemiskinan dan pengurangan tingkat pengangguran tidak menyentuh obyek sesungguhnya. Bukan rahasia umum jika diketahui bahwa bantuan tersebut tidak menyentuh (atau tepatnya : tidak sampai) ke lapisan masyarakat yang berhak. Budaya pemotongan bantuan di kalangan aparat pemerintahan sudah menjadi ”jamur” yang tidak bisa diatasi. Mulai dari tingkat pejabat tinggi sampai pada aparat pemerintah ditingkat paling rendah, kelurahan/desa, RT/.RW. Alhasil program penanggulangan kemiskinan pemerintah malah tidak pernah mencapai tujuan.

Kondisi ini membuat sebagian besar anak-anak pulau Lae-lae menghabiskan / menggadai masa kecil mereka dengan bekerja. Ada yang terpaksa harus meninggalakan sekolahnya. Ada yang masih belia sekali, tetapi sudah harus bekerja sebagai penyelam ikan. Yang penting bagi mereka adalah lepas dari jeratan kemiskinan, tanpa harus mengiba-iba pada orang lain apalagi kepada aparat.

*****

Kemiskinan itu bukanlah pilihan. Hanyalah sebuah nasib yang harus diterima. Sekiranya ini sebuah pilihan dan hanya ini pilihan yang pantas dipilih oleh orang-orang seperti i charles, maka memilih untuk tidak memilih adalah jalan terbaik. Memilih untuk membuang seluruh usia kanak-kanak demi tidak memilih miskin adalah pilihan terbaik. Dan Charles memilihnya.

Dan Charles, seperti juga pemuda di pulau lae-lae, bukanlah para pengutuk yang tidak ada kerjaan. Charles juga bekerja. Bekerja keras menggoreng kulit di bawah teriknya matahari siang dengan aroma laut yang khas. Demi sebuah pilihan hidup, tidak mau miskin dan bukan pengangguran.

*****
Pulau lae-lae, suatu sore
Sembari menjaga si kecil yang rewel..
Datang i-Charles menagih…
”Utang Ikan…!!!!” serunya…Seperti biasa
[anak ini bikin aku kagum…!!]
……Belum berselang setengah jam,
Aku melangkah ke sumur untuk mengambil air..
Di lapangan belakang samping rumah, anak-anak main bola…
Tak ingin ketinggalan…Charles ikut nimbrung..
Seolah Tak ingin kehilangan keceriaan masa remajanya..

*****

Iklan

Satu pemikiran pada ““Charles” yang tak pernah berhenti

  1. sebuah kritik sosial buat pemerintah yang kurang memperhatikan penduduk miskin..
    pemerintah terlalu memihak investor sampe melupakan penduduknya sendiri..
    ini lagi di Lae-lae ki ini daeng?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s