nasehatku pada mawar….(2)
Februari 5, 2009
mawar…
baiklah kuceritakan
dendang sendu sang seruling
saat tercerabut dari rumpun bambu
sebab itu ambillah pelajaran..
“Dengan Nama Allah yang Maha Kasih Maha Sayang
Dengarkan seruling bagaimana ia berkisah, karena perpisahannya ia adukan derita.
katanya:
Sejak aku berpisah dari rumpun bambuku, laki perempuan tlah merintih karena jeritku. Kuingin dada yang terkoyak perceraian, biar kuungkapkan semua derita kerinduan. Siapa saja yang terlempar dari asalnya, mencari saat kembali ia bergabung dengannya.
Pada setiap kelompok, jeritan kugubah lagu dan dendang. Aku gabung dengan yang malang juga yang senang, Setiap orang menduga dia sudah menjadi kawanku, tapi tak seorangpun ingin tahu rahasia dalam diriku. Rahasiaku tak jauh dari jeritanku, tetapi mata dan telinga tak punya cahaya untuk mencerapku. Ruh tidak tertutup dari badan, dan badan dari ruh, tapi tak seorangpun dapat memandang ruh.
Suara seruling ini bukan lagi angin, tetapi api. tiadalah dia, siapa saja yang tak punya api. Yang berada dalam seruling hanya api cinta, yang berada dalam anggur cuma gelora cinta. Seruling itu kawan siapapun yang berpisah dari kawannya, menyobekkan tirai-tirai kita lagu-lagunya. Siapa gerangan pernah melihat bisa dan penawar bak seruling. Seruling bertutur tentang jalan penuh darah, juga tentang kerinduan majnun ia berkisah.
Hanya kepada yang tak sadar kesadaran ini diberikan, hanya kepada telinga pembicaraan ini ditujukan. Dalam derita kita hari-hari datang terlalu cepat, hari-hari kita berjalan bersama duka yang pekat. Jika hari-hari kita berlalu biarkan semua berlalu begitu saja.
Wahai yang tak seorangpun suci selain-Mu, biarlah yang tinggal hanya Kau saja.
Siapapun selain ikan akan kenyang dengan air-Nya.
Siapapun tanpa makanan, akan menjadi lama hari-harinya.
Tentang kematangan, tak satupun yang mentah paham
Karena itu ucapku mesti pendek, Wassalam.”
Mawar…
ambillah kisah ini..
Yang diwariskan oleh Maulana Jalauddin Rumi
untuk kita ..
sebab itu kita mesti memetik ilmu..
PULANG
Agustus 21, 2008
Pulang*
dari tanah bugis, mengalir darah para passompe..
sebuah takdir seumur lahir..
jauh ujung langkahmu..
mengantar cita-cita yang kau tuju..
dan kan kau temui wajah baru..
namun tanah ini terus menagih..
kapankah gerangan putranya kembali..
dari perjalanan seumur takdir…
melayarkan siluet lambaian di ujung biduk phinisimu..
dan taqdirmu..telah kau jalani..
dan mulutmu melirih :
Indo’ku, ambo’ku, anrikku engkana kasi…
takkappo fole ri tana mabelae..
*Puisi comment untuk tulisan Kapan Pulang Kampung ?
Gelisah Dalam elevasi kedamaian
Agustus 19, 2008
Gelisah Dalam elevasi kedamaian
Dari ketinggian dengan elevasi yang cukup untuk memandang sekeliling. Di balik jendela dia memandang keluar dan mengamati sekeliling. Sembari memainkan jemari dan mengetikkan beberapa kalimat dalam surat yang dia kirimkan via email ke seseorang.
Sembari mengamati sekelilingnya, mengamati kondisi lalu lintas, mengamati kondisi ruang kerjanya, dia memulai untuk menerawangkan pikirannya pada “awang-awang”.. sebuah angan tentang kebebasan, tentang ketenangan…seolah menginginkan diri menjauh dari segala hal yang “mumet” dan mengkungkung..hal-hal yang bertentangan dengan idelismenya.. Read the rest of this entry »
Echan dalam keseharian (1)
April 1, 2008
Echan panggilan untuk Putra ku yang sudah berumur 9 bulan selalu menyisakan kelucuan bagi kami orangtuanya. Laiknya anak kecil seumurannya, echan hanya bisa menangis, ketawa, makan, eek, bobo..merengek..dan berbagai kelakuan lain yang terkadang membuat ibunya gregetan dan kadang mengeluh keletihan..
Echan Po .. panggilan anak-anak kecil samping rumah untuk dia..Baji’ Pamai gelaran dari neneknya, sebab waktu masih umur 3-6 bulanan, setiap orang yang lewat di depan warung kami selalu dikasih senyum yang manis dari Echan. Genggaman dan “cubitan” nya lumayan, sebab tangannya yang kuat menggenggam merepresentasikan tangan kakeknya yang kuat dan besar, beda dengan bapaknya yang kecil dan kerempeng ini.
Pernah suatu hari dia diberi anak ayam kasumba warna pink. Segera saja itu menarik perhatiannya. Dengan sedikit jangkauan yang diusahakannya dan lalai dari awasan ibunya, Cuit-cuit ayam kecil itu menjerit…Ternyata leher anak ayam itu sudah di “piting” dan dibanting kemana-mana. Beruntung Ibunya tersadar dan segera meraih tangan echan dan melepaskan anak ayamnya…hhhhhhh…
Wake up my blogsoul
April 1, 2008
Akhirnya aku bisa bangun dan mencoba memposting sebuah tulisan yang membangunkanku dari tidur panjang karena shock berat akibat aliran darah koneksi internet terputus dalam waktu yang cukup untuk membuatku lebih dekat kepada kematian rasa putus asa.
Blogwalking aku lakukan dengan nyaman pada pagi hari sekalian menghirup udara segar yang tersebar dalam atmosphera blog [blogosphere]. hhhhhhhh kuhirup banyak-banyak. Sebanyak mungkin kuhirup sebelum udaranya mulai beracun akibat polusi yang timbul dari setumpuk kerjaan yang menunggu.
Kini aku mencoba menulis ini..lamat-lamat jiwaku mulai beringsut dari tidur panjangnya. Mulai menggoreskan beberapa kedip huruf yang membentuk sebentuk makna.. Satu persatu sel dalam tubuhku mulai menggeliat kegirangan dan menggerakkan jariku untuk menekan tuts keyboard laptopku dan merangkai kalimat demi kalimat. Sebuat Post Aid kutempel di sudut meja kerjaku : Wake Up My Blog Soul
Puisi pelaut 1.0
Januari 18, 2008
Tak perlu kau surutkan diriku…
Aku tak akan kembali..
Aku akan menantangmu..
Tak perlu kau perlihatkan kekuatanmu..
Aku tahu kamu memang perkasa..
Aku akan mengakuinya..
Tak perlu kau amuk perahuku..
Aku tetap mengarungimu..
Aku akan pasang layarku..
Tak pernah surut..
Akan tetap mendayung..
Akan anak dan istri di ujung lembayung..
[penantian..]
Januari 18, 2008
Duhai…
Dengarlah puan berkeluh kesah..
Kepada Tuan penguasa Asa..
Duhai..
Dimanakah kusandarkan
Tubuh yang dirambati lelah
Duhai..
Kemanakah hendak kubawa..
Beban dipunggung yang meremukkan
Duhai,
Siapa lagi yang hendak mendengar..
Derai tangis yang menyayatkan
Duhai,
Kenapa tiada berhenti..
Luka dihati yang memerikan..
Duhai,
Siapakah yang akan menawarkan..
Penawar racun yang menyembuhkan..
Duhai,
Bagaimanakah lagi akan kubawa
Berat nian yang mematahkan punggung..ku
Duhai,
Kapankah dia datang..
Penghibur hati yang membahagiakan…
[ SYUKUR ]
Januari 18, 2008
[ SYUKUR ]
Indah-MU kureguk di malam sunyi..
Maafkan aku, tak sempat kutitipkan senyum..
Hela nafasku tak menyisakan tenaga..
Bahkan sekedar menyunggingkan senyum..
Aku menikmati-MU..
Menitipkan keluh dalam peluh..
Dalam hari penuh haru..
Dalam sunyi dipenuhi sepi..
Aku menikmati-MU
Menghela nafas mengusir lelah
Dalam setiap reguk terteguk
Dalam hiruk udara yang terhirup..
Hhhhhhhhhhhhh….
Hela nafasku tak menyisakan tenaga..
Bahkan sekedar menyunggingkan senyum..
Maafkan diriku tak sempat kutitipkan senyum..
Indah-MU kureguk di malam sunyi..
Ingin Mengubah Dunia? Lakukan Kebaikan Kecil Yang Tulus Hari Ini ! (Message From “G” To Evan)
Januari 11, 2008
Seperti biasa, setiap pagi sebagai rutinitas aku melewati jalan yang sama menuju kantor. Lalu lalang kendaraan yang salip menyalip menjadi santapan tambahan setiap pagi…hhhhhhh..hari yang sama rutinitas yang sama, kuhela nafas panjang mengusir jengah di dada. Read the rest of this entry »
TUHAN TERSENYUM
Januari 11, 2008
Masih dari kumpulan tulisan dari sebuah CD data usang.
…..
TUHAN TERSENYUM
Don’t take your organs to heaven
Heaven knows we need them here.
Pernahkah Tuhan tersenyum, atau melucu? Dalam kitab suci tak saya temukan dua hal itu. Begitu juga dalam hadis nabi. Pemahaman tekstual saya atas agama terbatas. Pengajian saya masih randah, kata orang Minang. Tapi kalau soalnya cuma “adakah khatib yang melucu, atau marah,” Read the rest of this entry »
ORANG-ORANG BERJUBAH
Desember 26, 2007
Berikut ini postingan ke dua dari kumpulan artikel yang termuta dalam sebuah CD saat merapikan dokumen..semoga bermanfaat..
ORANG-ORANG BERJUBAH
Pintu flat saya diketuk. Dan, saya membukanya. Tiga orang berjubah hitam tampak di depan pintu. Saya kaget. Apa salah saya, sampai orang-orang dari pengadilan datang kemari?Bukan. Ternyata, mereka orang-orang gereja. Yang di tangan mereka bukan kitab undang-undang, melainkan kitab suci. Ayem saya.
“Are you Christian?” tanya salah seorang berjubah itu “No, mate, I’m a Moslem.”
Tak jadi soal. Mereka tetap mendakwahi saya. Disuruhnya saya membaca Bibel. Saya merasa ditodong. Buat mereka, Bibel harus dibaca, sebab dunia ini rusak karena orang tak lagi membaca Bibel.
“Alangkah sepele sebab kerusakan dunia,” pikir saya.
“Di dalam kitab ini, kunci keselamatan ditemukan,” kata Christ yang brewok itu. Saya jadi takut. Keadaan kelihatannya genting. Namun, saya akui, uraiannya terlalu simplistik. Saya jadi mengerti, mengapa Read the rest of this entry »
Di Zawiyyah Sebuah Masjid
Desember 17, 2007
Saat lagi bongkar-bongkar dokumen, saya ketemu sebuah CD data. Saya kemudian membukanya. Ternyata banyak tulisan yang bagus tersimpan disitu.
Saya sempatkan membaca dan memilah, nah tulisan Cak Nun di bawah ini, saya posting pertama. Semoga bermanfaat, setidaknya menjadi bahan renungan atas keresahan akan isu “kristenisasi dalam Film My Hope”.
Di Zawiyyah Sebuah Masjid
Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid. Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren Read the rest of this entry »
LA MADDUKELLENG dan A. GHAISAN MADDUKELLENG
November 15, 2007
LA MADDUKELLENG dan A. GHAISAN MADDUKELLENG
![]()
Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe
La Madukelleng
Ketika kau menjejakkan kaki di Tanah kelahiran keturunanmu
Mungkin tak terpikir oleh mu akan ada keturunanmu yang akan kembali
Menapaktilasi jejakmu…di sana …
Mudah-mudahan .. Menitis, terwariskan sifat-sifat terbaik
Dari dirimu La Maddukelleng kepada A. Ghaisan Maddukelleng
yang ditakdirkan lahir di tanah yang pernah kau jejak
Pulau Lae-lae…
Inilah La Maddukelleng :
LA MADDUKKELLENG adalah putera dari Arung (Raja) Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dan We Tenriangka Arung (Raja) Singkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).
Pada saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng Read the rest of this entry »
Qurban
November 1, 2007
Qurban
Maukah kita menggadai kebahagiaan kita sekarang ini dengan “mengorbankannya” untuk secara sukacita ikut menjadi bagian senyum dan tawa dari wajah-wajah yang lebih dari separuh kehidupannya bermuram durja akan kesedihan kehidupan yang mereka jalani..
Maukah kita menjadikannya Qurban yang bisa mengganjal kesedihan mereka walau sekejap waktu saja..sebelum derita kehidupan kembali mengakrabi mereka..
Adapun seandainya apa yang kita gadaikan memberi mereka jalan untuk melepaskan pelukan derita sehingga bahagia kembali merangkul mereka, maka tidakkah kemudian kita rasakan dekapan hangat kebahagian yang tak mampu terlukiskan oleh bahkan angan-angan tentang kebahagiaan…
Tak lah sia-sia apa yang telah kita Qurbankan…dan tergadaikan… Bukan pengorbanan sia-sia… Adapun jika dengan Qurban itu, derajat kebahagiaan kita menurun kadarnya…maka yakinlah Kemulian kehidupan sebagai balasannya…
Dari itu tak kan sia-sia jika ber-Qurban…









