Echan dalam keseharian (1)
April 1, 2008
Echan panggilan untuk Putra ku yang sudah berumur 9 bulan selalu menyisakan kelucuan bagi kami orangtuanya. Laiknya anak kecil seumurannya, echan hanya bisa menangis, ketawa, makan, eek, bobo..merengek..dan berbagai kelakuan lain yang terkadang membuat ibunya gregetan dan kadang mengeluh keletihan..
Echan Po .. panggilan anak-anak kecil samping rumah untuk dia..Baji’ Pamai gelaran dari neneknya, sebab waktu masih umur 3-6 bulanan, setiap orang yang lewat di depan warung kami selalu dikasih senyum yang manis dari Echan. Genggaman dan “cubitan” nya lumayan, sebab tangannya yang kuat menggenggam merepresentasikan tangan kakeknya yang kuat dan besar, beda dengan bapaknya yang kecil dan kerempeng ini.
Pernah suatu hari dia diberi anak ayam kasumba warna pink. Segera saja itu menarik perhatiannya. Dengan sedikit jangkauan yang diusahakannya dan lalai dari awasan ibunya, Cuit-cuit ayam kecil itu menjerit…Ternyata leher anak ayam itu sudah di “piting” dan dibanting kemana-mana. Beruntung Ibunya tersadar dan segera meraih tangan echan dan melepaskan anak ayamnya…hhhhhhh…
Pulau Lae-lae itu..
Desember 3, 2007
Pulau Lae-lae itu..
……Mengapa dinamakan Lae-Lae, ada ceritanya. Niya’-niya’ bedeng. Rupamayyaji angkana. Teya’ nakke balle-balle. Riyolo-mariyolona. Niya’ biseang reppe’. A’lurang rassi Cina. Ta’rampe ri gusunga. Assitenta iba’leanna. Ujung napattimboiya. Romang-romang pandang bauka. Nasangga ricumo Cinayya. Akkiyo’-kiyo’ lae, lae. Batuanna maeko, maeko. Apaji’ naniyaremmo. Anjo gusunga Lae-Lae. Kammatodong niarentommo. Anjo ujunga ujung pandang. (Tersebutlah konon. Kata sahibul hikayat. Terdahulu dari yang dahulu. Ada perahu pecah. Penuh penumpang Cina. Terdampar di karang berpasir. Bertentang berseberangan. Tanjung tempat bertumbuhnya. Semak-semak pohon pandan. Maka ributlah penumpang Cina. Memanggil-manggil lae, lae. Artinya ke mari, ke mari. Maka dinamakanlah. Karang berpasir itu Lae-Lae. Begitu pula dinamakan. Read the rest of this entry »






