Sup sang pengusaha
Juli 17th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Suatu ketika, Seorang pemilik perusahaan besar melakukan janjian makan siang dengan dua kandidat terbaik dari hasil penyaringan calon karyawan yang akan bekerja di perusahaan yang didirikannya yang merupakan perusahaan salah satu terbesar. Sang pemilik memilih restoran sup favoritnya untuk acara makan siang itu. Setelah perkenalan dan sedikit basa-basi, mereka dipersilahkan memilih menu oleh pelayan yang sedari tadi telah siap untuk melayani pesanan mereka.
Silahkan pesan sendiri kata Sang Pemilik. Seluruh menu adalah sup, meskipun jenisnya ada beberapa macam. Ya mau tak mau kedua kandidat ini memilih menu sup, sekalian merasakan seberapa enak sih sup yang sangat digilai sang calon bos.
Tak beberapa lama, tiga porsi sup panas andalan restoran itu meluncur ke meja mereka. Uap panasnya menggugah selera tentu saja. Silahkan dimulai makannya. Saya jamin ini pasti sup paling enak di kota ini demikian Sang Pemilik mempersilahkan tamunya. Kemudian mereka bertiga larut dalam suasana makan siang dengan sup terbaik di kota itu.
Beberapa hari kemudian, pihak perusahaan mengirimkan surat konfirmasi penerimaan. Salah satu kandidat diterima dan satunya lagi tidak diterima.
****
Dua kandidat tersebut, sejatinya adalah kandidat terbaik. Sulit untuk memilih salah satu diantaranya. Keunggulan mereka sangat berimbang, sehingga Sang Pemilik sendiri yang akhirnya turun tangan dan memilih satu diantaranya. Metodenya dengan makan siang bersama.
****
Pada sebuah meeting internal perusahaan, cerita di atas menjadi salah satu bahan rapat. Kemudian Sang Pemilik sendiri menjelaskannya.
Kenapa aku memakai metode makan siang untuk memilih kandidat terbaik? Begini Aku membuang orang yang serta merta mencampurkan lada, garam, dan bumbu lainnya ke dalam sup, sebelum merasai rasa supnya dulu kata Sang Pemilik. Pastilah dia dengan sok pintarnya akan langsung ingin mengubah perusahaan, bisa hancur ini perusahaan tambahnya.
Lho apa korelasinya? Terang saja, rupanya si bos percaya kalau orang yang mencampurkan segala bumbu sebelum merasai supnya adalah orang yang jika jika bekerja akan segera menerapkan segala teori yang diketahuinya tanpa memahami dulu kultur perusahaan. Segala teori yang didapatkan di bangku pendidikan akan segera diterapkannya tanpa merasakan dan berbaur dulu dengan budaya perusahaan. Lagi pula, kata si bos Dia kelihatan kepanasan akibat terlalu banyak menambahkan lada, lalu menambahkan lagi kecap, tambah tidak karuan rasanya. Pada akhirnya dia kelihatan kepayahan tidak mampu menghabiskan supnya dan itu membuat saya kecewa. Tambahnya.
Lalu kandidat yang satu? Aku mantap memilihnya katanya dengan sumringah. dia habiskan supnya, kuperhatikan, dia memulai makan dengan mencicipi dulu supnya. Lalu beberapa saat dia menganggukkan kepala, lalu serta merta merta dia menambahkan lada, garam, kecap secukupnya. Dengan antusias dia menikmati supnya sampai habis jelasnya panjang lebar. Aku selalu meyakini bahwa sikap inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan kita. Orang yang mau merasai dulu bagaimana perusahaan ini dijalankan, memahami filosofi dan budaya perusahaan, dan pada akhirnya mampu mengukur kebutuhan perusahaan. Dengan begitu takaran solusi terhadap masalah yang dihadapi perusahaan tepat dan pasti. Tegasnya. Dia memposisikan diri sebagai penyempurna rasa dari masakan si tukang masak. Rasa yang dia takar menyempurnakan rasa masakan yang memang sudah enak.
Pemilik perusahaan itu konon adalah Thomas Alva Edison, seorang inventor sekaligus pengusaha. Perusahaannya yang masih ada dan terkenal dengan nilai “be number one or number two in business” . Ya perusahaan itu adalah General Electric. Perusahaan yang kemudian belakangan jadi benchmark praktik bisnis terbaik terutama dalam mendeliver nilai qualitas sebagai jiwa perusahaan. Perusahaan yang melahirkan tokoh panutan manajemen, Jack Welch.
==================================================
Numpang jualan —> klik ya : Crazy Profits