Sepatu. Sebuah memoar bersambung (2)

Juli 2nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Tiba tiba HP ku berdering. Waktu itu jaringan selular belumlah sebaik sekarang. Kabarnya hanya Ada satu BTS yang melayani radius yang sangat luas. Jadinya untuk mendapatkan spot aku kadang menggantung HP di sudut rumah.

Diujung sana seorang perempuan berbicara. “Bapak, mohon datang ke kantor kami untuk interview hari senin”. Aku bergumam. Aku sendiri memang butuh pekerjaan sebagai existensiku sebagai seorang sarjana. Tapi sebenarny sekarang ini sayapun sedang bekerja. Ya setidaknya sekarang saya dalam proses praktek di suatu perusahaan migas di kampungku. Kuputuskan untuk bersiap siap ke kota malam ini juga. Biar bagaimanapun setiap kesempatan harus dimaksimalkan.

**

Aku memandang sepatu itu. Modelnya kira kira cocok untuk memenuhi syarat safety yang ketat di perusahaan migas. Harganya 40 ribu setelah aku tawar dari harga 50 ribu. Akhirnya aku mendapatkan sepatu dengan standar safety meskipun bekas. Ya sepatu bekas. Di kota kami terdapat sentra penjualan barang bekas, dari pakaian dalam hingga jas. Dari topi hingga sepatu. Aku sendiri memilih membeli sepatu bekas disamping modelnya masih lumayan juga karena beli sepatu baru tidak sanggup. Heh… Untuk ukuran sarjana yang masih pengangguran beli sepatu baru sudah suatu kemewahan.

***

Aku menjalani kerja magang atau praktek dengan sepatu safety bekas dan sebuah tas selempang yang juga bekas. Untuk ke lokasi, aku harus naik angkot dua kali. Lokasi lapangan migas itu terlihat gersang dan panas dengan pipa ukuran besar menyembul disana sini.

Aku dibriefing sebentar untuk kemudian ditempatkan di departemen maintenance yang mana dinggap paling cocok dengan bidang keilmuan pada titel kesarjanaanku, Sarjana Teknik Mesin.

Aku dipersilahkan masuk keruangan operasional maintenance. Belum seberapa melangkah tiba tiba aku dikejutkan dengan suara teguran dari seseorang dengan nada agak tinggi. “hei, apa kau pikir sepatumu cukup safety untuk melindungi kakimu. Ganti sepatumu besok. Saya tidak mau nanti kakimu remuk karena tidak memakai sepatu safety” serunya sedikit mem-bully. Aku akhirnya diperintahkan ke ruang safety dan akhirnya aku mendapatkan sepasang sepatu safety butut. Dari situ aku tahu kalau sepatu safety itu tidaklah seperti sepatu bekasku yang hanya model boot.

****

Aku sudah dua minggu bekerja di sana. Aku sudah mulai bisa mengikuti Irama kerja orang lapangan. Akupun sudah mulai bisa bergaul mulai dari level tukang potong rumput sampai ke level direktur operasional. Sehingga rasanya aku akan melanjutkan untuk terus menjadi pekerja permanen disana. Sampai saat telepon panggilan untuk interview disuatu perusahaan di kota. Aku tidak dapat menolaknya. Meskipun memang bukan perusahaan di bidang engineering tetapi menjadi pekerja permanen tetap jauh lebih baik dibanding menjadi pekerja magang.

*****

Aku berangkat ke kota dengan optimisme akan kesuksesan. Aku mengepak barangku dalam tas selempangku dan kupakai sepatuku. Ya sepatu bekasku itu.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sepatu. Sebuah memoar bersambung (2) at dimensi2x2.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.