Membuncah

Oktober 25, 2009

23.10.2009   22:05
Kunci kamar kos kucari dalam kantong tas.  Kebiasaan yang sudah lebih setengah bulan dilupakan. Ada perasaaan yang lain, seperti kala kutinggalkan kamar ini seminggu lalu.  Rasanya sangat sepi dan sedih.

Lebih dari tiga minggu sebelumnya, istri dan anakku mendampingiku. Meskipun harus menumpang di kamar kos ini. Dan demi menghindari komplain dari penghuni kos yang lain, istri dan anakku jarang keluar kamar kecuali untuk makan dan mandi.  Ada rasa bahagia ketika melihat anakku yang lucu bermain sendiri dengan mainan seadanya di kamar yang sempit ini terlebih lagi istriku yang cantik selalu menungguku pulang ketika sore tiba.

Aku memutuskan untuk memulangkan mereka dulu, sebab kami belum mendapatkan rumah kontrakan. Terdapat rumah yang kami putuskan akan kontrak, tetapi saat ini rumah tersebut masih dikontrak oleh orang lain.  Dan kalo tetap tinggal di kost, pasti suatu saat kami akan dikomplain oleh penghuni kost yang lain. Lagipula sekarang menjelang akhir proyek tempatku kerja, saya akan lebih sering meninggalkan mereka.

Ada hal menagih di perasaanku saat ini.  Ketika aku sampai di depan pintu kamar, mendengar bunyi sepatuku atau ketukan di pintu, anakku pasti lari dan berteriak “etta” dengan artkulasi yang masih cadel. Etta artinya ayah, waduh aku menagih rasa itu.  Tapi kini aku membuka pintu sendiri dan kemudian menyendiri dalam kamar. Sungguh aku merindukan mereka. Perasaan itu membuncah..memenuhi dadaku.  Seperti juga sms istriku “puang, dadaku rasanya sesak, menghadapi ini”.  Sabar dan ikhlas sayang,  kita pasti akan berkumpul lagi.

25.10.2009  05.30
kudapati bola, mainan anakku yang lain, baju-baju yang ditinggalkan. Kesedihanku memuncak.  Aku rindu mereka.

Leave a Reply