why i resign

April 10, 2009

Pada sebuah catatan tentang rencana hidup aku beberapa tahun lalu kutuliskan sebuah statement yang berbunyi : “aku akan berhenti dari perusahaan tempat aku bekerja tepat setelah 5 tahun masa kerja”. Di catatan yang lain menegaskan “Pada bulan Maret 2009 aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan di sini”. Bahkan lebih tegas lagi kepada beberapa teman di luar kantor aku sering mengatakan “aku punya orientasi jadi konsultan, tapi setidaknya aku keluar dulu dari pekerjaan sekarang”. Dari kesemua statement itu hampir semuanya lahir secara spontan sebagai resolusi pada masa tertentu dimana aku memikirkan tentang masa depan.

Aku tidak tahu apa rencana Tuhan tentang kehidupan aku. Aku hanya melakukan resolusi itu secara spontan dan tanpa orientasi lebih, selain sekedar mencoba memetakan rencana kehidupanku. Tak lebih. Alhasil, aku sendiri sudah mulai lupa tentang resolusi-resolusi tersebut, namun saat semua terjadi dengan detail yang sangat mirip dengan yang aku rencanakan, aku menjadi takjub akan kekuatan kalimat harapan. Tak istimewa memang.

Ya..akhirnya waktu itu datang juga. Tidak terlalu tepat memang, tapi nyaris tepat. Hanya sekitar 10 hari dari tepatnya 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini, akhirnya aku mengundurkan diri. Tanda-tanda bahwa semua rencana itu bakal terwujud, dimulai di awal bulan maret. Seorang head hunter dari Singapura menelfon aku. Aku sendiri tidak merasa pernah mengirimkan aplikasi kemanapun apalagi ke Singapura. Ternyata mereka melihat CV aku di LinkedIn. Wow..interview pakai Bahasa Inggris pula, baru pertama neeh. Gugup dan serba salah jadinya. Tapi untungnya masih bisa nyambung dan terus berlanjut hingga tigakali interview. Tapi hingga saat ini kelanjutannya belum jelas. Seminggu berikutnya, datang chating dari seorang teman di Linkedin juga. Dia meminta CV aku . Beberapa hari kemudian kami pun menyusun janjian untuk interview via YM. Semua berjalan lancar dan dia berjanji akan meneruskannya ke bagian HRD mereka di KL (kuala lumpur..hhh). Inipun belum ada follow upnya sampai sekarang.

Dan seminggu kemudian datanglah telfon dari seorang saudara dan mengajak bergabung dengan perusahaannya. Tawaran gajinya menurutku lumayan juga. Ini tepat hari dimana 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini. Tapi aku masih mencoba meminta waktu untuk mempertimbangkan segalanya termasuk kondisi proyek yang sedang ditangani sekarang.

Setelah hampir seminggu berlalu dan hampir setiap hari aku ditelfonnya, akhirnya aku mengiyakan. Inipun setelah mempertimbangkan pendapat dari istriku. Menurutnya kami butuh perubahan dan itu hampir tidak mungkin datang dari perusahaan tempat bekerja sekarang. Lama sudah aku pikirkan dan pertimbangkan dan memang sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan ini. Lagipula meskipun memaksa terus tinggal “demi” proyek SAP itu, aku melihat proyek ini tidak bisa mencapai terget baik waktu maupun kualitasnya. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa berhenti. Yang kutahu ini adalah rencana hidup. Hidupku sampai saat notes ini masih harus menumpang di rumah mertua yang menurutku juga sangat tidak layak untuk menampung kami. Inilah yang menjadi pertimbangan istriku yang membuatku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan itu, meskipun pada akhirnya bisa saja aku tambah sengsara dengan pilihan ini tapi peluang untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih baik juga jauh lebih besar. Dan aku harus berani untuk mengambil tantangan ini.

Oh ya, aku belum jelaskan ke mana aku pindah. Jika ada yang berpikir aku mendapatkan pekerjaan ini karena ada teman-teman konsultan yang membukakan jalan dan menyarankanku untuk pergi atau kemudian mengajak gabung di proyeknya yang akan datang, ini adalah anggapan yang salah besar dan bisa jadi prasangka ini berbuah fitnah. Aku harus luruskan bahwa tidak ada sama sekali dari teman-teman konsultan yang berlaku demikian. Kalau selama ini kami cukup dekat, hal itu adalah wajar sebab kita adalah partner kerja. Apalagi selama di Makassar, kita selalu satu bus ke pabrik. Bagiku teman-teman konsultan adalah guru dan teman berbagi yang sangat pemurah dalam membagi ilmunya dan terbuka untuk bertukar pikiran. Dalam beberapa hal kita bisa saling melengkapi. Hmmm..bagiku, dunia konsultan SAP juga menjadi salah satu cita-cita besarku saat ini.

Lalu apakah aku bekerja sebagai konsultan di tempat lain? Tidak sama sekali. Aku kerja disebuah perusahaan kecil di bidang coal mining/tambang batubara. Sebuah perusahaan yang sedang merangkak, dan mungkin belum dikenal. Dari sini aku juga baru tahu kalau perusahaan batubara sangatlah banyak walau yang kita kenal segelintir saja. Nah perusahaan kami masuk ke dalam kelompok yang sangat banyak itu dan belum termasuk segelintir yang dikenal. Perusahaan kami menempatkan diri dalam core mining management, sebuah niche yang baru dimana penegasannya pada pengelolaan Mining Licence (KP) yang mati suri, melakukan refinancing sehingga tambang bisa berjalan kembali untuk kemudian masuk dalam manajemen pengelolaan tambang dan mengoperasikannya dengan pola royalti kepada pemilik KP. Sejauh ini kami sudah melakukannya untuk beberapa tambang.
Well, sangat jauh dari experience lama di SAP kan..? oh ya, khusus untuk ini memang aku tidak melalui sebuah proses rekruitment yang rumit sebab perusahaan ini masih akan bertumbuh bersama para pengelola awalnya, ya termasuk diriku. Jadi jangan dijadikan ukuran sebuah kesuksesan. Tapi bagiku, ini adalah rencana Yang Maha Kuasa.

Di tempat lama aku sebenarnya punya banyak uneg-uneg yang ingin aku ceritakan. Tapi aku tak mau sebab aku akan selalu teringat kata-kata ini. Menceritakan orang.. “jika benar bisa berarti Ghibah, jika salah akan berarti fitnah”. Jadinya biarlah uneg-uneg, keluhan, celaan, yang ingin kusampaikan tentang perusahaan tempat kerja yang lama biarlah menjadi milikku saja.

Kecuali bahwa aku sangat merasa berterima kasih atas kesempatan berkarya dan belajar yang banyak di tempat itu, bergaul dengan rekan-rekan kerja yang hebat, mendapatkan jodoh yang cantik, mendapatkan petunjuk langsung pimpinan yang mengayomi (terkhusus untuk Pak Kaslan). Saya bangga telah sempat menjadi bagian dari organisasi para pekerja keras yang telah menunjukkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi demi memberi kebanggaan dan kehormatan pada bangsa, negara dan agama, pada kejayaan perusahaan, dan pada kesejahteraan keluarga. Terakhir aku ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada owner, para founder pendiri bosowa group, bahwa organisasi ini telah sangat berkembang dan maju pesat sehingga sangat disegani sebagai organisasi yang masif tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga di bidang politik. Harapanku semoga tetap jaya di masa yang akan datang.

One Response to “why i resign”


  1. Tuhan memang sering menunjukkan jalan terbaik buat hambanya yang sabar kanda…………………

    semoga kesuksesan itu menghampiri kanda….amien


Leave a Reply