Hari pertama di tempat kerja yang baru tidaklah terlalu istimewa. Kantor kami berada di lantai 28 sebuah gedung berarsitektur modern, yang kalau aku bilang arsietktur yang aneh, tepatnya di bilangan mega kuningan. Kami menempati ruang yang cukup kecil yang hanya sekedar untuk menjalankan aktifitas perusahaan. Kami juga punya beberapa virtual office yang bisa kami pakai jika sangat dibutuhkan, aku melihat gaya berkantor seperti inilah yang lagi tren sekarang.
Karena kantor kami kecil, terkadang kami harus meeting di lounge yang digratiskan oleh pemilik perusahaan rent office tersebut. View dari lantai 28 di lounge tersebut sangat indah. Kalau membutuhkan ruangan meeting yang lebih privat atau lebih besar. Kami harus reservasi dulu. Menurutku berkantor dengan model seperti ini menjadi lebih efisien.

Hari itu kami memiliki meeting dengan konsultan beserta calon mitra kami. Semuanya berlangsung baik dan memiliki prospek yang cerah. Kami masih harus melakukan rally-rally meeting follow up untuk bisa memastikan kami bisa mendapatkan project itu.

Seperti diberitakan, hari itu hujan sangat keras dan bercampur badai. Korbannya, sebuah pesawat pengangkut TNI AU jatuh di Bandung. Kalau di jakarta, tidak sampai butuh waktu lama untuk genangan melimpasi seluruh jalanan protokol. Alhasil macetpun terjadi di mana-mana. Aku sendiri sedang mencari kost yang baru. Saat akan pulang, kira-kira jam 8.30. kemacetan belum beringsut dari jalanan. Aku putuskan untuk jalan kaki ke tempat yang lebih cepat mendapatkan angkot.
Saat aku jalan, seorang laki-laki tiba-tiba serta merta tersenyum dan berkata “boleh tidak pak minta-minta, maaf pak saya kehabisan uang. Boleh gak pak minta ongkos pulang”. Aku hanya melongo sebentar untuk memperhatikan orang itu, tak ada tampang pengemis, dan sedikit agak kemayu. Agaknya dia benar-benar kehabisan uang. Akupun merogoh kantong dan memberikan sejumlah uang sambil bertanya “ini cukup tidak” dan dia pun berkata “ Alhamdulillah, terimakasih pak. Aku bisa pulang”. Aku langsung beranjak pergi tak sempat menikmati kegembiraan pria tadi.

Aku terus berjalan, sampai aku menemukan kemacetan yang sangat parah. Di ujung pintu keluar sebuah gedung, tiga orang expat india berbincang satu sama lain. Yang kutangkap dari pembicaraan mereka adalah mereka mau pulang tapi mau naik apa. Dua orang diantaranya naik taksi seorang lagi memutuskan untuk naik kopaja. Aku tak mempedulikan mereka. Aku hanya berjalan sambil mencoba mencapai ujung perempatan jalan untuk mendapatkan bus yang tepat. Tiba-tiba disampingku berjalan lebih cepat pria india yang memutuskan untuk naik kopaja. Rupanya dia memutuskan untuk jalan kaki juga.

Wow…genangan di jalan denpasar sudah sangat mirip sungai. Aku mengikuti pejalan kaki yang lain, juga pria india itu untuk menyusuri sisi dalam jembatan untuk mencapai ujung perempatan jalan yang berada pas di bawah jembatan. Satu persatu motor yang mencoba menerobos genangan berhenti dan mogok, raungan motor yang lain terdengar sana sini setelah mesinnya sudah bisa nyala lagi. Akhirnya bus yang ditunggu tiba, aku naik dan mengambil tempat duduk paling belakang.

Beberapa meter ke depan bus berhenti lagi, eh si india lagi neeh. Dia ternyata bisa menyeberang ke sana toh. Tapi karena di sekitar lampu merah, bus tidak bisa berhenti total, pria india itu mencoba meloncat ke atas bus beberapa kali tapi tidak bisa. Pada percobaan terakhir, akhirnya bus berjalan tapi dia tidak naik juga.

Aku menghabiskan waktu di starbuck kafe menunggu redanya macet. Sambil minum aku membuka laptop dan mengupdate sesuatu. Beberapa teman sesekali menyapa lewat chating. Aku juga membalas beberapa email.

Leave a Reply