Saxophonist di atas jembatan, menunggumu di atas Bus
April 10, 2009
Suatu malam aku pulang dari kantor, saat suasana masih cukup ramai, jam menunjukkan pukul 7 di malam hari. Gegas aku jalan selepas keluar dari lift dan segera kumenuju ke jembatan penyeberangan. Jembatan yang juga berfungsi sebagai shelter busway tersebut cukup panjang dan melelahkan untuk didaki. Mungkin juga karena aku sudah kecapean seharian di kantor. Sesekali di beberapa sisi jembatan, pengemis dan pedagang kaki lima menghiasi lorong sempit jalanan jembatan tersebut.
Sedari tadi aku mendengar suara sengau bak terompet klakson bus. Tapi yang ini agak harmonis dan seperti irama yang dimainkan. Hmm..sepertinya ada yang bermain terompet. Aku memastikannya lebih jelas, saat langkhaku sudah mencapai lantai jembatan. Jauh di tengah, seorang ibu dengan gaya khas bak pro meniup terompet sejenis saxophone. Suara sengau yang keluar dari alat musik itu, membawaku larut dalam angan. Ditambah semilir angin memaikan cardiganku yang sengaja tak kukancing. Pikirku, ada sebuah sajian jazz yang lumayan untuk dinikmati sejenak. Enak karena blues banget (halagh..ngarti gak blues).. suatu saat aku ingin dia memainkan lagu favoritku. Ya lagu-lagu kenny g dan dave koz. Angan itu bermain di benakku. Sambil menyimpan uang seikhlasnya di tempat uang ibu saxophonist itu, aku beranjak pergi sambil sesekali menoleh ke ibu itu. Rasa kagum memenuhi dadaku. Dia pasti seorang pejuang keluarga. Mengamen di belantara jakarta yang keras ini. beruntunglah ibu itu masih punya keterampilan memainkan saxophone, sehingga gaya mengamennya cukup unik dan mempunyai daya
jual yang pantas dihargai.
Aku masih mendengar sayup-sayup bunyi saxophone saat masih di bawah jembatan. “berhentiah sejenak ibu, istirahatlah dan bermainlah lagi jika sudah ada yang lewat jembatan” gumamku dalam hati. Bus jurusan ke arah kost sudah datang. Aku naik dan duduk di tempat yang agak kosong. Malam itu agak ramai dan macet di jalur yang kulalui. Agaknya sebagian besar pekerja yang tinggal di Jakarta ingin memanfaatkan long weekend akibat pemilu ini. jalananpun sesak dan Bus melaju lambat bak siput. Dua orang pengame muda dengan modal masing-masing memegang gitar. Salah satunya mulai berbasa basi dengan khas pengamen. “selamat malam bapak ibu, kami di sini berdiri untuk menghibur bapak ibu….bla..bla..bla “ hingga kemudian petikan gitar mulai memenuhi seisi bus yang memang agak kosong. Satunya memainkan instrument dan yang lainnya memainkan melodi. Lumayan menurutku. Pikirku pasti lagu yang ingin dibawakan ini adalah lagu wajib pengamen seperti lagu-lagu dari band ST12 yang sedang naik daun itu. Tiba-tiba jeda sejenak petikan gitar mereka, vokalis salah satu dari mereka mulai masuk dengan bait “sekian lama, aku menunggu, untuk kedatanganmu…bukankah engkau telah berjanji, kita jumpa di sini, datanglah …kedatanganmu kutunggu..”. wah larinya ko jadi dangdut neeh. Menunggu. Tapi asik juga. Emang sih lagu ini sekarang agak naik daun lewat aransemen ulang band sonet 2009nya Kak ridho rhoma (istilah anak muda tetanggaku di kampung). Aku menikmatinya, sebab permainan gitarnya dan vokalnya emang asik didengar. Goyang..? ah bus ini sudah cukup goyang kok. Kadang melaju kencang. Tapi tiba-tiba ngerem, membuat seisi bus menjadi otomatis goyang.
Hanya sebuah lagu yang dimainkan oleh para pengamen itu. Aku sendiri kembali melamun sambil mengamati sisi jalanan yang macet. Aku menunggu cukup lama di atas bus hingga aku bisa sampai di halte tempatku biasa turun.
Pria Kemayu Dan Pria India
April 10, 2009
Hari pertama di tempat kerja yang baru tidaklah terlalu istimewa. Kantor kami berada di lantai 28 sebuah gedung berarsitektur modern, yang kalau aku bilang arsietktur yang aneh, tepatnya di bilangan mega kuningan. Kami menempati ruang yang cukup kecil yang hanya sekedar untuk menjalankan aktifitas perusahaan. Kami juga punya beberapa virtual office yang bisa kami pakai jika sangat dibutuhkan, aku melihat gaya berkantor seperti inilah yang lagi tren sekarang.
Karena kantor kami kecil, terkadang kami harus meeting di lounge yang digratiskan oleh pemilik perusahaan rent office tersebut. View dari lantai 28 di lounge tersebut sangat indah. Kalau membutuhkan ruangan meeting yang lebih privat atau lebih besar. Kami harus reservasi dulu. Menurutku berkantor dengan model seperti ini menjadi lebih efisien.
Hari itu kami memiliki meeting dengan konsultan beserta calon mitra kami. Semuanya berlangsung baik dan memiliki prospek yang cerah. Kami masih harus melakukan rally-rally meeting follow up untuk bisa memastikan kami bisa mendapatkan project itu.
Seperti diberitakan, hari itu hujan sangat keras dan bercampur badai. Korbannya, sebuah pesawat pengangkut TNI AU jatuh di Bandung. Kalau di jakarta, tidak sampai butuh waktu lama untuk genangan melimpasi seluruh jalanan protokol. Alhasil macetpun terjadi di mana-mana. Aku sendiri sedang mencari kost yang baru. Saat akan pulang, kira-kira jam 8.30. kemacetan belum beringsut dari jalanan. Aku putuskan untuk jalan kaki ke tempat yang lebih cepat mendapatkan angkot.
Saat aku jalan, seorang laki-laki tiba-tiba serta merta tersenyum dan berkata “boleh tidak pak minta-minta, maaf pak saya kehabisan uang. Boleh gak pak minta ongkos pulang”. Aku hanya melongo sebentar untuk memperhatikan orang itu, tak ada tampang pengemis, dan sedikit agak kemayu. Agaknya dia benar-benar kehabisan uang. Akupun merogoh kantong dan memberikan sejumlah uang sambil bertanya “ini cukup tidak” dan dia pun berkata “ Alhamdulillah, terimakasih pak. Aku bisa pulang”. Aku langsung beranjak pergi tak sempat menikmati kegembiraan pria tadi.
Aku terus berjalan, sampai aku menemukan kemacetan yang sangat parah. Di ujung pintu keluar sebuah gedung, tiga orang expat india berbincang satu sama lain. Yang kutangkap dari pembicaraan mereka adalah mereka mau pulang tapi mau naik apa. Dua orang diantaranya naik taksi seorang lagi memutuskan untuk naik kopaja. Aku tak mempedulikan mereka. Aku hanya berjalan sambil mencoba mencapai ujung perempatan jalan untuk mendapatkan bus yang tepat. Tiba-tiba disampingku berjalan lebih cepat pria india yang memutuskan untuk naik kopaja. Rupanya dia memutuskan untuk jalan kaki juga.
Wow…genangan di jalan denpasar sudah sangat mirip sungai. Aku mengikuti pejalan kaki yang lain, juga pria india itu untuk menyusuri sisi dalam jembatan untuk mencapai ujung perempatan jalan yang berada pas di bawah jembatan. Satu persatu motor yang mencoba menerobos genangan berhenti dan mogok, raungan motor yang lain terdengar sana sini setelah mesinnya sudah bisa nyala lagi. Akhirnya bus yang ditunggu tiba, aku naik dan mengambil tempat duduk paling belakang.
Beberapa meter ke depan bus berhenti lagi, eh si india lagi neeh. Dia ternyata bisa menyeberang ke sana toh. Tapi karena di sekitar lampu merah, bus tidak bisa berhenti total, pria india itu mencoba meloncat ke atas bus beberapa kali tapi tidak bisa. Pada percobaan terakhir, akhirnya bus berjalan tapi dia tidak naik juga.
Aku menghabiskan waktu di starbuck kafe menunggu redanya macet. Sambil minum aku membuka laptop dan mengupdate sesuatu. Beberapa teman sesekali menyapa lewat chating. Aku juga membalas beberapa email.
why i resign
April 10, 2009
Pada sebuah catatan tentang rencana hidup aku beberapa tahun lalu kutuliskan sebuah statement yang berbunyi : “aku akan berhenti dari perusahaan tempat aku bekerja tepat setelah 5 tahun masa kerja”. Di catatan yang lain menegaskan “Pada bulan Maret 2009 aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan di sini”. Bahkan lebih tegas lagi kepada beberapa teman di luar kantor aku sering mengatakan “aku punya orientasi jadi konsultan, tapi setidaknya aku keluar dulu dari pekerjaan sekarang”. Dari kesemua statement itu hampir semuanya lahir secara spontan sebagai resolusi pada masa tertentu dimana aku memikirkan tentang masa depan.
Aku tidak tahu apa rencana Tuhan tentang kehidupan aku. Aku hanya melakukan resolusi itu secara spontan dan tanpa orientasi lebih, selain sekedar mencoba memetakan rencana kehidupanku. Tak lebih. Alhasil, aku sendiri sudah mulai lupa tentang resolusi-resolusi tersebut, namun saat semua terjadi dengan detail yang sangat mirip dengan yang aku rencanakan, aku menjadi takjub akan kekuatan kalimat harapan. Tak istimewa memang.
Ya..akhirnya waktu itu datang juga. Tidak terlalu tepat memang, tapi nyaris tepat. Hanya sekitar 10 hari dari tepatnya 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini, akhirnya aku mengundurkan diri. Tanda-tanda bahwa semua rencana itu bakal terwujud, dimulai di awal bulan maret. Seorang head hunter dari Singapura menelfon aku. Aku sendiri tidak merasa pernah mengirimkan aplikasi kemanapun apalagi ke Singapura. Ternyata mereka melihat CV aku di LinkedIn. Wow..interview pakai Bahasa Inggris pula, baru pertama neeh. Gugup dan serba salah jadinya. Tapi untungnya masih bisa nyambung dan terus berlanjut hingga tigakali interview. Tapi hingga saat ini kelanjutannya belum jelas. Seminggu berikutnya, datang chating dari seorang teman di Linkedin juga. Dia meminta CV aku . Beberapa hari kemudian kami pun menyusun janjian untuk interview via YM. Semua berjalan lancar dan dia berjanji akan meneruskannya ke bagian HRD mereka di KL (kuala lumpur..hhh). Inipun belum ada follow upnya sampai sekarang.
Dan seminggu kemudian datanglah telfon dari seorang saudara dan mengajak bergabung dengan perusahaannya. Tawaran gajinya menurutku lumayan juga. Ini tepat hari dimana 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini. Tapi aku masih mencoba meminta waktu untuk mempertimbangkan segalanya termasuk kondisi proyek yang sedang ditangani sekarang.
Setelah hampir seminggu berlalu dan hampir setiap hari aku ditelfonnya, akhirnya aku mengiyakan. Inipun setelah mempertimbangkan pendapat dari istriku. Menurutnya kami butuh perubahan dan itu hampir tidak mungkin datang dari perusahaan tempat bekerja sekarang. Lama sudah aku pikirkan dan pertimbangkan dan memang sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan ini. Lagipula meskipun memaksa terus tinggal “demi” proyek SAP itu, aku melihat proyek ini tidak bisa mencapai terget baik waktu maupun kualitasnya. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa berhenti. Yang kutahu ini adalah rencana hidup. Hidupku sampai saat notes ini masih harus menumpang di rumah mertua yang menurutku juga sangat tidak layak untuk menampung kami. Inilah yang menjadi pertimbangan istriku yang membuatku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan itu, meskipun pada akhirnya bisa saja aku tambah sengsara dengan pilihan ini tapi peluang untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih baik juga jauh lebih besar. Dan aku harus berani untuk mengambil tantangan ini.
Oh ya, aku belum jelaskan ke mana aku pindah. Jika ada yang berpikir aku mendapatkan pekerjaan ini karena ada teman-teman konsultan yang membukakan jalan dan menyarankanku untuk pergi atau kemudian mengajak gabung di proyeknya yang akan datang, ini adalah anggapan yang salah besar dan bisa jadi prasangka ini berbuah fitnah. Aku harus luruskan bahwa tidak ada sama sekali dari teman-teman konsultan yang berlaku demikian. Kalau selama ini kami cukup dekat, hal itu adalah wajar sebab kita adalah partner kerja. Apalagi selama di Makassar, kita selalu satu bus ke pabrik. Bagiku teman-teman konsultan adalah guru dan teman berbagi yang sangat pemurah dalam membagi ilmunya dan terbuka untuk bertukar pikiran. Dalam beberapa hal kita bisa saling melengkapi. Hmmm..bagiku, dunia konsultan SAP juga menjadi salah satu cita-cita besarku saat ini.
Lalu apakah aku bekerja sebagai konsultan di tempat lain? Tidak sama sekali. Aku kerja disebuah perusahaan kecil di bidang coal mining/tambang batubara. Sebuah perusahaan yang sedang merangkak, dan mungkin belum dikenal. Dari sini aku juga baru tahu kalau perusahaan batubara sangatlah banyak walau yang kita kenal segelintir saja. Nah perusahaan kami masuk ke dalam kelompok yang sangat banyak itu dan belum termasuk segelintir yang dikenal. Perusahaan kami menempatkan diri dalam core mining management, sebuah niche yang baru dimana penegasannya pada pengelolaan Mining Licence (KP) yang mati suri, melakukan refinancing sehingga tambang bisa berjalan kembali untuk kemudian masuk dalam manajemen pengelolaan tambang dan mengoperasikannya dengan pola royalti kepada pemilik KP. Sejauh ini kami sudah melakukannya untuk beberapa tambang.
Well, sangat jauh dari experience lama di SAP kan..? oh ya, khusus untuk ini memang aku tidak melalui sebuah proses rekruitment yang rumit sebab perusahaan ini masih akan bertumbuh bersama para pengelola awalnya, ya termasuk diriku. Jadi jangan dijadikan ukuran sebuah kesuksesan. Tapi bagiku, ini adalah rencana Yang Maha Kuasa.
Di tempat lama aku sebenarnya punya banyak uneg-uneg yang ingin aku ceritakan. Tapi aku tak mau sebab aku akan selalu teringat kata-kata ini. Menceritakan orang.. “jika benar bisa berarti Ghibah, jika salah akan berarti fitnah”. Jadinya biarlah uneg-uneg, keluhan, celaan, yang ingin kusampaikan tentang perusahaan tempat kerja yang lama biarlah menjadi milikku saja.
Kecuali bahwa aku sangat merasa berterima kasih atas kesempatan berkarya dan belajar yang banyak di tempat itu, bergaul dengan rekan-rekan kerja yang hebat, mendapatkan jodoh yang cantik, mendapatkan petunjuk langsung pimpinan yang mengayomi (terkhusus untuk Pak Kaslan). Saya bangga telah sempat menjadi bagian dari organisasi para pekerja keras yang telah menunjukkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi demi memberi kebanggaan dan kehormatan pada bangsa, negara dan agama, pada kejayaan perusahaan, dan pada kesejahteraan keluarga. Terakhir aku ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada owner, para founder pendiri bosowa group, bahwa organisasi ini telah sangat berkembang dan maju pesat sehingga sangat disegani sebagai organisasi yang masif tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga di bidang politik. Harapanku semoga tetap jaya di masa yang akan datang.




