Di sini Hujan
Maret 18, 2009
aku masih bergelut pada pekerjaan yang mengerubungi saat hujan sebentuk bulir biji jagung menimpa kepalaku hingga menyentak kesadaranku untuk segera beringsut dari bawah pusaran awan hitam yang tampak kelelahan sehingga punggungnya berat untuk menahan bobot uap air yang menggelayutinya sepanjang sejak musim angin menghiasi hari-hari di bulan yang penuh warna kemerahmudaan menyembulkan tetulangan di sisi pelipi wajahmu yang menyemu menyembunyikan gurat kelelahan setelah hari memeluk diriku dan dirimu dan hanya melepaskannya ketika dia meminta untuk pamit kepada malam yang datang untuk menggantinya dan mengikat kita pada temali kelelahan dengan meninggalkan sesunyi pada temaram cahaya hingga hari kemudian datang lagi menagih dan membangkitkanku tanpa sempat walau sekedar membisikkan tentang kepergianku untuk berjibaku dengan gelut galayut pekerjaan sebab dirimu masih terikat pada mimpi yang mendekapmu sejak semalam yang temaram dan kita habiskan dengan tawa renyah dan sebulir air selaksana mengalir malu-malu mengiring tangis duka kita yang tiba-tiba menyela diantara tawa yang menderai berai sehingga pasak rumah kita yang memang sudah rapuh berderit seakan menjeritkan kelelahannya ikut menanggung beban orang-orang yang menghuninya dan tak henti mengguncangkan tiangnya sehingga seluruh papan pun tercerabut akibat aus dan paku yang terempas sana-sini
aku memikirkan rumah kita yang mungkin atapnya bahkan mulai beterbangan saat angin itu mengamuk di kampung kita sehingga meninggalkan rasa resah di hatiku sebab khawatir di mana lagi kita akan bernaung menagih kehangatan saat dingin dan basah merapat hingga ke ujung daging yang paling dekat dengan tulang kita yang rasa dinginnya mengilukan sendi-sendi hingga lututku bergetar dan bibirku mengeriput sambil berkomat kamit merapalkan mantra doa demi mengharap dan memohon di sini jangan hujan..




