Pulau Lae-lae itu..

Desember 3, 2007

Pulau Lae-lae itu..

Pulau Lae-lae

 

……Mengapa dinamakan Lae-Lae, ada ceritanya. Niya’-niya’ bedeng. Rupamayyaji angkana. Teya’ nakke balle-balle. Riyolo-mariyolona. Niya’ biseang reppe’. A’lurang rassi Cina. Ta’rampe ri gusunga. Assitenta iba’leanna. Ujung napattimboiya. Romang-romang pandang bauka. Nasangga ricumo Cinayya. Akkiyo’-kiyo’ lae, lae. Batuanna maeko, maeko. Apaji’ naniyaremmo. Anjo gusunga Lae-Lae. Kammatodong niarentommo. Anjo ujunga ujung pandang. (Tersebutlah konon. Kata sahibul hikayat. Terdahulu dari yang dahulu. Ada perahu pecah. Penuh penumpang Cina. Terdampar di karang berpasir. Bertentang berseberangan. Tanjung tempat bertumbuhnya. Semak-semak pohon pandan. Maka ributlah penumpang Cina. Memanggil-manggil lae, lae. Artinya ke mari, ke mari. Maka dinamakanlah. Karang berpasir itu Lae-Lae. Begitu pula dinamakan. Tanjung itu Ujung Pandang).

Pulau Lae-Lae ikut terekam dalam sastra bahasa Makassar. Orang-orang Makassar yang pelaut (dahulu, sekarang tidak lagi) yang biasa malang melintang melayari samudra Nusantara, bahkan sampai di pesisir timur Madagaskar (juga dahulu kala), jika ingin mencemooh orang yang belum pernah meninggalkan tanah Mangkasara’ diejek dengan ucapan: “Pu’re’ kau, Lae-Lae tannurapi’” (kau ini apa, Lae-Laepun engkau tidak capai). Ada sebuah kelong (syair) Makassar yang menyangkut 4 buah pulau kecil yang tersebar di depan pelabuhan Makassar, bunyinya demikian:

Barrang Lompo, Barrang Ca’di,
Gusung Tallang, Lae-Lae,
Kupammoliki,
Simpung sikamma sallona.

Barrang Lompo, Barrang Ca’di,
Gusung Tallang, Lae-Lae,
Di sana kupendam,
Nostalgia selama ini.

Potongan tulisan tersebut ditulis pada 10 Januari 1999 untuk dipublikasikan di rubrik Wahyu Akal Iman dan Ilmu yang diasuh oleh : bpk. H.M. Nur Abdurrahman di harian Fajar Makassar. Saat itu marak akan diadakan pemindahan penduduk dari Pulau Lae-lae ke pemukiman nelayan di daerah Salodong, pesisir luar Makassar [sekitar jalan tol]..

Saat itu, penduduk akan dipindahkan karena pemerintah makassar bekerjasama dengan investor dari Jakarta [yang konon saat itu menjabat Menteri Pariwisata..] Sebagian besar masyarakat menolak untuk berpindah, lebih karena alasan historis daripada alasan ekonomis…

……………..

Disebut terpencil bisa jadi itu penilaian salah. Sebab Pulau Laelae jaraknya sangat dekat dengan Kota Makassar. Tapi jika dikatakan tidak terpencil, mungkin lebih salah lagi. Kok bisa?

Suasana Pulau Laelae Selasa, 20 November pagi itu sangat tenang. Nuansa perkampungan nelayan sangat kental terlihat. Para nelayan yang kemungkinan baru pulang melaut pagi itu terlihat sibuk mengurusi perahunya.

Sebagian lainnya, khususnya ibu-ibu terlihat sibuk berbincang di balai-balai yang cukup banyak berdiri di sepanjang jalan pulau itu.

Sebagai orang baru di Laelae, pagi itu Fajar langsung mencoba mencari informasi soal pulau itu di kantor kelurahan. Hanya sayangnya, kantor lurah yang berada persis di pintu masuk dan dekat dermaga Laelae terlihat sepi.

Kantor itu seperti berada di daerah terpencil, tak berpenghuni dan jauh dari kesan sebagai kantor kelurahan. Kondisi kantor yang tak terkunci itu juga memprihatinkan.

Di dalamnya berantakan. Selain debu, sisa dos makanan juga masih terlihat di lantai.
Dibeberkan warga sekitar, Lurah Laelae, Baharuddin Abubakar terakhir muncul 5 November lalu saat pilgub digelar.

Menurut informasi yang dihimpun di sekitar kantor lurah, tak banyak warga yang kenal dengan lurahnya. Pasalnya, lurah lebih banyak beraktivitas di kota. “Paling-paling lurah datang kalau ada pembagian beras.

Selebihnya kami tidak tahu. Kadang-kadang muncul sebulan sekali. Kami sebenarnya berharap lurah bisa tiap hari di sini, sebab banyak hal yang sering diurus warga,” keluh seorang warga yang tak mau namanya dikorankan.

Lurah Laelae memang cukup sulit ditemui. Fajar yang coba mencari tahu dan mengonfirmasi soal keluhan warga juga menemui jalan buntu. Pasalnya, Camat Ujungpandang, Andi Bukti saja, yang secara struktural membawahi Kelurahan Laelae tak tahu nomor teleponnya.

Selain mengeluhkan aparat pemerintah, warga Laelae juga “kurang puas” dengan pelayanan kesehatan dari puskesmas pembantu Laelae. Pasalnya, dalam sepekan, puskesmas yang berdampingan dengan kantor kelurahan itu hanya buka dua kali sepekan, yakni Senin dan Kamis.

“Harapan kita ada suster atau dokter yang menetap di sini. Sebab yang namanya penyakit, susah ditebak datangnya. Malah dulu pernah ada warga yang melahirkan di perahu saat akan dibawa ke rumah sakit. Pasalnya, saat itu malam, dan tidak ada perawat yang tinggal,” kata Hasniah, salah seorang pengurus majelis taklim Laelae.

Keberadaan tenaga kesehatan setiap saat di Laelae memang sangat dibutuhkan. Sebab pulau ini juga rawan demam berdarah dan muntaber. Warga di sana juga mengaku sudah bermohon untuk itu.

“Kalau memang perawat atau dokter sulit tinggal, paling tidak pelatihan penanggulangan penyakit dan pengobatannya dilakukan di sini. Itu penting agar jika tiba-tiba warga sakit bisa dilakukan pertolongan pertama sebelum dibawa ke RS,” katanya seraya melanjutkan bahwa di sana hanya ada dua sumur air tawar.

Selain keluhan-keluhan di atas, warga Laelae secara umum cukup senang tinggal di sana. Pekerjaan sebagai nelayan mereka anggap sudah bisa menjadi tumpuan hidup. Apalagi belakangan, warga tidak lagi fokus untuk mencari ikan untuk dijual di pasar atau dikonsumsi sendiri.

Sebab sejak beberapa waktu lalu, nelayan Laelae sudah menggarap ikan-ikan untuk ekspor, seperti Tenggiri. “Jadi di sini agak lucu. Meski pulau nelayan, tapi tetap ada warga yang keluar ke kota untuk membeli ikan dan dijual lagi.

Sebab ikan yang didapat dari hasil nelayan sebagian besar ikan ekspor. Ada juga sih yang ikan untuk lauk sehari-hari, hanya jumlahnya kecil,” beber Hasniah.

Terkait rencana pemerintah sebelumnya yang ingin memindahkan warga Laelae ke luar pulau, menurut Hasan sudah harus dilupakan.

“Kami sudah tinggal lama di sini. Kami telah hidup dan mencari makan sejak lama di Laelae. Kami juga merasa sudah berkecukupan, jadi tidak ada keinginan dan kami memang tidak rela untuk pergi dari pulau ini,” jelas warga bernama Hasan.

Dari tulisan : Puskesmas Buka Senin-Kamis, Kantor Lurahnya Berantakan

…..

Tanpa direncanakan sebelumnya, ternyata perempuan yang kini Ibu dari anakku ternyata tinggal di lae-lae. Kebetulan atau tidak, darah bugis wajo yang mengalir di tubuh ini, mengantarku mengadakan penelitian kecil-kecilan dan kudapati bahwa setidaknya terdapat leluhur kami orang wajo yang pernah menginjakkan kakinya di pulau itu..walau saat itu belumlah berpenghuni.

Sejarah ini bahkan tak berbekas pada warga penghuni lae-lae sekarang. Tak seorangpun yang mengerti tentang kenyataan sejarah yang saya ajukan. Patut dimaklumi bahwa kemungkinan besar pulau ini baru berpenghuni di akhir abad 19, setidaknya tahun-tahun awal abad 19.

Sesekali kemudian saya melakukan investigasi sejarah tentang pulau ini. Tak banyak yang saya dapati, setidaknya hanyalah sepenggalan sejarah, Seperti yang dituturkan oleh nenekku [ibu dari bapak mertuaku], bahwa pada zaman penjajahan, pulau ini sempat ditempati oleh penjajah baik itu Belanda maupun penjajah Jepang. Pada Zaman Belanda pulau ini menjadi semacam tetirah bagi petinggi Hindia Belanda yang berpusat di Fort Rotterdam.

Selain itu, pulau ini memang difungsikan sebagai pelindung terhadap terpaan ombak yang selalu mengancam Makassar. Pada masa itulah dibangun semacam tanggul batu yang panjang [sekarang disebut ujung batu] di bibir pantai pulau sampai menjorok keluar sehingga seperti ingin bersentuhan dengan tanggul batu yang sama dari pulau Gusung. Sebuah bangunan lampu pandu (mercusuar) yang berdiri agak keluar di belakang pulau dan mendapat Suplai listrik dari pulau Lae-Lae [sekarang sudah tidak berfungsi] . Menurut nenekku, listrik itu dialirkan dari Fort Rotterdam, menurut beliau lampunya menyala siang malam [sekarang lampu menyala saat maghrib sampai jam 12 malam]. Sisa-sisa kabel berdiameter sekepalan tangan masih dapat ditemui dan dijadikan pemberat jala oleh para nelayan.

Satu yang istimewa dari pulau ini, jika dibandingkan dengan pulau pulau pesisir Makassar lainnya yakni kualitas air tawarnya yang baik sehingga layak minum. Sebuah keistimewaan tersendiri jika ditinjau dari kecilnya pulau ini. Masih menurut nenekku, Belanda membuat sumur-sumur umum untuk menjaga kualitas air tanah. Kemudian di beberapa bagian di pulau itu dibanguni rumah dari bahan metal lengkung khas Belanda [..saat ini, model rumah itu masih dapat di temui di daerah Tallo..].

Satu yang cukup menarik dari cerita nenekku, ada bunker persembunyian yang saling behubungan. Kalau ini, menurut saya adalah peninggalan Jepang, sebagaimana dapat ditemui di daerah-daerah eks penjajahan Jepang. Sampai saat ini bunker itu masih ada meski keadaannya memprihatinkan.

Masih banyak hal-hal yang ingin saya tanyakan, termasuk siapakah orang belanda yang pernah datang dan menanyakan almarhum kakek, yang menurut beliau, kakek adalah orang yang selalu menjadi referensi dari orang asing sebab kakek adalah juru bahasa pada masa hidupnya. Tapi kondisi nenek yang tidak memungkinkan untuk bercerita panjang dan lebar maka jadilah catatan ini tak pernah bersambung sampai sekarang….

[dari catatanku tentang lae-lae, aku dan anakku menapaktilasi jejak leluhur orang Wajo]

………

Saya punya cita-cita, menjadikan Lae-lae terkenal di mata dunia. Sebab saya sangat yakin di negeri nun jauh di sana [belanda], ada romantisme rekaman sejarah yang terbawa ke negeri itu. Saya sangat yakin saat ini ada orang yang sedang merindui pulau kecil indah ini di sana. Saya masih menunggu mereka.

Lae-lae adalah catatan sejarah , karena catatan sejarah itulah yang menjadikan saya rasanya sudah mempunyai ikatan yang sangat kuat sehingga sangat mencintai pulau ini.

7 Responses to “Pulau Lae-lae itu..”

  1. daenglimpo Says:

    baji tojeng pemandanganna, e dede ero’ka motere kodong…

  2. dimensi2x2 Says:

    Moteremaki Daeng…

  3. daeng limpo Says:

    Pembahasan tentang sejarah Lae-lae yang komplit, aga kareba cikalikku ? baji-baji ji?

  4. dimensi2x2 Says:

    Alhamdulillah, baji daeng..
    ehm..puisinya di blog ta..menyentuh..

    salam

    kurniawan

  5. alearch Says:

    asalamu alaikum..

    terima kasih banyak di dimensi2×2 (maap, namanah lom ku tau :) ) udah sudi mengunjungi blogku yg hina..

    membaca syair yg kau tulis di about me, sungguh mengharukan, indahhh bangett, hikzz.. hikz.. asli sedih. lom ke jepang aja gw dah sedih mo ninggalin tanah kelahiran. uwaaaaaaaa…

    insya allah klo nggak jadi ke jepang gw mo ke pulau ale ale saja, eh salah lea- lea maksudku :P . abisnah disana kelihatan nyaman, indah dan tentramm.. hikzz.. kangen banget ma suasana kayak di pulau lea lea..

    makasih friend atas puisi dn artikel pulau lea leanya. :)

  6. aRuL Says:

    Saya baru baca ini daeng.. oo begini ternyata sejarahnya :)


  7. [...] pemerintah tentang kemiskinan yang tidak tersampaikan kepada yang berhak. Oia di tulisannya tentang Pulau Lae-lae juga mengkritik pemerintah yang kurang perhatian terhadap pulau [...]


Leave a Reply