Sup sang pengusaha

Juli 17th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

soup2Suatu ketika, Seorang pemilik perusahaan besar melakukan janjian makan siang dengan dua kandidat terbaik dari hasil penyaringan calon karyawan yang akan bekerja di perusahaan yang didirikannya yang merupakan perusahaan salah satu terbesar. Sang pemilik memilih restoran sup favoritnya untuk acara makan siang itu. Setelah perkenalan dan sedikit basa-basi, mereka dipersilahkan memilih menu oleh pelayan yang sedari tadi telah siap untuk melayani pesanan mereka.

Silahkan pesan sendiri kata Sang Pemilik. Seluruh menu adalah sup, meskipun jenisnya ada beberapa macam. Ya mau tak mau kedua kandidat ini memilih menu sup, sekalian merasakan seberapa enak sih sup yang sangat digilai sang calon bos.

Tak beberapa lama, tiga porsi sup panas andalan restoran itu meluncur ke meja mereka. Uap panasnya menggugah selera tentu saja. Silahkan dimulai makannya. Saya jamin ini pasti sup paling enak di kota ini demikian Sang Pemilik mempersilahkan tamunya. Kemudian mereka bertiga larut dalam suasana makan siang dengan sup terbaik di kota itu.

Beberapa hari kemudian, pihak perusahaan mengirimkan surat konfirmasi penerimaan. Salah satu kandidat diterima dan satunya lagi tidak diterima.

****
Dua kandidat tersebut, sejatinya adalah kandidat terbaik. Sulit untuk memilih salah satu diantaranya. Keunggulan mereka sangat berimbang, sehingga Sang Pemilik sendiri yang akhirnya turun tangan dan memilih satu diantaranya. Metodenya dengan makan siang bersama.

****
Pada sebuah meeting internal perusahaan, cerita di atas menjadi salah satu bahan rapat. Kemudian Sang Pemilik sendiri menjelaskannya.

Kenapa aku memakai metode makan siang untuk memilih kandidat terbaik? Begini Aku membuang orang yang serta merta mencampurkan lada, garam, dan bumbu lainnya ke dalam sup, sebelum merasai rasa supnya dulu kata Sang Pemilik. Pastilah dia dengan sok pintarnya akan langsung ingin mengubah perusahaan, bisa hancur ini perusahaan tambahnya.

Lho apa korelasinya? Terang saja, rupanya si bos percaya kalau orang yang mencampurkan segala bumbu sebelum merasai supnya adalah orang yang jika jika bekerja akan segera menerapkan segala teori yang diketahuinya tanpa memahami dulu kultur perusahaan. Segala teori yang didapatkan di bangku pendidikan akan segera diterapkannya tanpa merasakan dan berbaur dulu dengan budaya perusahaan. Lagi pula, kata si bos Dia kelihatan kepanasan akibat terlalu banyak menambahkan lada, lalu menambahkan lagi kecap, tambah tidak karuan rasanya. Pada akhirnya dia kelihatan kepayahan tidak mampu menghabiskan supnya dan itu membuat saya kecewa. Tambahnya.

Lalu kandidat yang satu? Aku mantap memilihnya katanya dengan sumringah. dia habiskan supnya, kuperhatikan, dia memulai makan dengan mencicipi dulu supnya. Lalu beberapa saat dia menganggukkan kepala, lalu serta merta merta dia menambahkan lada, garam, kecap secukupnya. Dengan antusias dia menikmati supnya sampai habis jelasnya panjang lebar. Aku selalu meyakini bahwa sikap inilah yang dibutuhkan oleh perusahaan kita. Orang yang mau merasai dulu bagaimana perusahaan ini dijalankan, memahami filosofi dan budaya perusahaan, dan pada akhirnya mampu mengukur kebutuhan perusahaan. Dengan begitu takaran solusi terhadap masalah yang dihadapi perusahaan tepat dan pasti. Tegasnya. Dia memposisikan diri sebagai penyempurna rasa dari masakan si tukang masak. Rasa yang dia takar menyempurnakan rasa masakan yang memang sudah enak.

Pemilik perusahaan itu konon adalah Thomas Alva Edison, seorang inventor sekaligus pengusaha. Perusahaannya yang masih ada dan terkenal dengan nilai “be number one or number two in business” . Ya perusahaan itu adalah General Electric. Perusahaan yang kemudian belakangan jadi benchmark praktik bisnis terbaik terutama dalam mendeliver nilai qualitas sebagai jiwa perusahaan. Perusahaan yang melahirkan tokoh panutan manajemen, Jack Welch.

==================================================

Numpang jualan —>  klik ya : Crazy Profits

Sepatu. Sebuah memoar bersambung (2)

Juli 2nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Tiba tiba HP ku berdering. Waktu itu jaringan selular belumlah sebaik sekarang. Kabarnya hanya Ada satu BTS yang melayani radius yang sangat luas. Jadinya untuk mendapatkan spot aku kadang menggantung HP di sudut rumah.

Diujung sana seorang perempuan berbicara. “Bapak, mohon datang ke kantor kami untuk interview hari senin”. Aku bergumam. Aku sendiri memang butuh pekerjaan sebagai existensiku sebagai seorang sarjana. Tapi sebenarny sekarang ini sayapun sedang bekerja. Ya setidaknya sekarang saya dalam proses praktek di suatu perusahaan migas di kampungku. Kuputuskan untuk bersiap siap ke kota malam ini juga. Biar bagaimanapun setiap kesempatan harus dimaksimalkan.

**

Aku memandang sepatu itu. Modelnya kira kira cocok untuk memenuhi syarat safety yang ketat di perusahaan migas. Harganya 40 ribu setelah aku tawar dari harga 50 ribu. Akhirnya aku mendapatkan sepatu dengan standar safety meskipun bekas. Ya sepatu bekas. Di kota kami terdapat sentra penjualan barang bekas, dari pakaian dalam hingga jas. Dari topi hingga sepatu. Aku sendiri memilih membeli sepatu bekas disamping modelnya masih lumayan juga karena beli sepatu baru tidak sanggup. Heh… Untuk ukuran sarjana yang masih pengangguran beli sepatu baru sudah suatu kemewahan.

***

Aku menjalani kerja magang atau praktek dengan sepatu safety bekas dan sebuah tas selempang yang juga bekas. Untuk ke lokasi, aku harus naik angkot dua kali. Lokasi lapangan migas itu terlihat gersang dan panas dengan pipa ukuran besar menyembul disana sini.

Aku dibriefing sebentar untuk kemudian ditempatkan di departemen maintenance yang mana dinggap paling cocok dengan bidang keilmuan pada titel kesarjanaanku, Sarjana Teknik Mesin.

Aku dipersilahkan masuk keruangan operasional maintenance. Belum seberapa melangkah tiba tiba aku dikejutkan dengan suara teguran dari seseorang dengan nada agak tinggi. “hei, apa kau pikir sepatumu cukup safety untuk melindungi kakimu. Ganti sepatumu besok. Saya tidak mau nanti kakimu remuk karena tidak memakai sepatu safety” serunya sedikit mem-bully. Aku akhirnya diperintahkan ke ruang safety dan akhirnya aku mendapatkan sepasang sepatu safety butut. Dari situ aku tahu kalau sepatu safety itu tidaklah seperti sepatu bekasku yang hanya model boot.

****

Aku sudah dua minggu bekerja di sana. Aku sudah mulai bisa mengikuti Irama kerja orang lapangan. Akupun sudah mulai bisa bergaul mulai dari level tukang potong rumput sampai ke level direktur operasional. Sehingga rasanya aku akan melanjutkan untuk terus menjadi pekerja permanen disana. Sampai saat telepon panggilan untuk interview disuatu perusahaan di kota. Aku tidak dapat menolaknya. Meskipun memang bukan perusahaan di bidang engineering tetapi menjadi pekerja permanen tetap jauh lebih baik dibanding menjadi pekerja magang.

*****

Aku berangkat ke kota dengan optimisme akan kesuksesan. Aku mengepak barangku dalam tas selempangku dan kupakai sepatuku. Ya sepatu bekasku itu.

Terminal 1 C bandar Soetta sangat menjanjikan

Juni 2nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Untuk pertamakalinya selama di Jakarta saya menggunakan ruang tunggu di terminal 1 c bandara Soetta ketika akan berangkat keluar kota.

Impresi pertama, langsung takjub. Wow saya pikir pasti kondisinya sumpek sebagaimana terminal 1 a atau 1 b . Ternyata terminal 1 c ini bisa dibilang lebih fresh, lebih modern. Terlepas dari warisan arsitektur yang klasik, refreshment arsitektur di dalamnya sangat baru. Lebih minimalis dan bersih.Penghilangan sekat kaca yang biasanya membatasi antara ruang tunggu dengan lorong menuju pintu pesawat. Dominasi warna putih membuat suasana terasa lapang. Kalau menurutku ini masih lebih modern dari terminal 2 sekalipun.

Harmoni SCTV, Kemegahan Musik

Mei 29th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Tayangan saban tanggal 20 an di layar stasiun SCTV Harmoni telah menarik perhatian saya sejak setahun lalu. Saat itu konser yang mungkin “replacement” terhadap acara SCTV yang lain berjudul “by Request” ,  penuh kejutan. Terutama karena kemegahan musiknya dan kejutan-kejutan arransemen yang terkadang tidak bisa diprediksi sebelumnya.  seperti link video di bawah ini :

Arransemen dari lagu “lupa-lupa ingat” Kuburan Band sangat mengejutkan, bahkan mungkin untuk penyanyinya sendiri Priya Kuburan.  Jadi ingat film Tom and Jerry.

Sejauh ini setidaknya ada 3 arranger orkestra yang telah menukangi event ini. Selama kurang lebih setahun lamanya di tahun 2010 dipegang oleh Andi Rianto.  Kemudian beberapa episode di 2011 dipegang oleh Aminoto Kosim dan beberapa lagi dipegang oleh Erwin Gutawa.

Saya melihat masing-masing memiliki ciri tersendiri. Terutama dengan Andi Rianto. Hasil arransemennya terasa begitu megah dengan beberapa eksplorasi dari unsur orkestrasi klasik itu sendiri.  Misalnya Harmonisasi Biola, Cello, dan Saxophone dan tentunya permainan piano klasik Andi Rianto sendiri.  Salah satu favorit saya selain milik priya kuburan di atas adalah saat Fadli dan Piyu Padi membawakan medley lagu mereka Rapuh dan Begitu Indah. Harmonisasi orkestra dan permainan gitar Piyu dipadu kekhasan suara Fadli membuat lagu ini terasa sangat megah. Tak salah penonton memberikan applaus untuk lagu ini, begitupun saya yang walaupun tidak menonton tapi memiliki videonya di Hape. Silahkan dinikmati video di bawah :

satu lagi lagu ini juga sangat megah :

Nah kalau arahan Aminoto Kosim bisa dibilang Orkestra penuh. Megah dan konservatif. Memang jarang terdapat kejutan seperti Andi Rianto tetapi keseluruhan sangat menghanyutkan. Penuh dan riuh. Ini link videonya :

dan ini :

Nah kalo Erwin Gutawa, tak perlu diragukan lagi. Pasti penuh kejutan dan arransemen yang berbeda. Penggunaan unsur lain sebagai pelengkap harmonisasi sebagai bonus kejutan yang lain, misalnya pada lagu Bento yang dibawakan oleh Azizi Blackout. Erwin menggunakan tambahan perkusi dari drum bekas untuk menambah elemen jalanan pada penyajian lagunya sebagaimana tema lagu bento sendiri, selain itu suara drum bekas itu terasa dominan membawa beat musik menjadi lebih energik. Sangat menghibur.

Kemudian yang satu ini juga penuh kejutan, sebagai comeback moment bagi Sammy Simorangkir ex vokalis kerispatih.

Overall acara Harmoni SCTV seolah sedikit memberi ruang pada musik itu sendiri untuk kembali sebagai hiburan yang sesungguhnya dimana penyajian mata dan telinga begitu harmonis berpadu dalam kemegahan. Kita akan tunggu Harmoni berikutnya di bulan-bulan mendatang.

Puisi Senja

Mei 22nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Engkau mungkin duduk di sana
Memandangi jingga lazuardi
kau temui di ujung benakmu
Apakah aku duduk disini
Sambil memuisikan :

Engkau mungkin duduk disana
Memandangi jingga lazuardi..
Sebuah puisi pada senja
….

Quote by Mario Teguh

Mei 22nd, 2011 § 2 Komentar

Pekerjaan yang tidak menyejahterakan adalah penjara yang menyamar sebagai sumber rezeki.

Semakin keras kita bekerja
di tempat seperti itu,
akan semakin kuat cengkeraman
perasaan takut bahwa tidak ada
rezeki Tuhan di tempat lain.

Perendahan seperti apakah
yang dilalui oleh orang beriman,
yang bisa menghapus keyakinannya
bahwa rezeki Tuhan tersebar di muka bumi?

Berubahlah atau ubahlah keadaan.

Mario Teguh

Dehidrasi di monas

Mei 15th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah beberapa minggu ini aku rajin jogging di monumen nasional. Disamping untuk olahraga, juga buat menghilangkan kejenuhan tiap akhir pekan. Daripada ngendon di kost terus, tidur, malas-malasan yang bikin Jenuh juga.

Hari ini aku ke monas lagi. Sedikit agak telat dari biasanya. Matahari sudah cukup tinggi, mulai panas. Aku datang dengan segala kecukupan perlengkapan, sepatu, jaket, BB, hape lain, topi. Hanya butuh lima menit untuk sampai di monas.

Monas sudah ramai dan riuh dengan banyaknya orang. Seperti biasa sebagaimana adanya monas. Aku langsung pemanasan dengan berjalan kecil. Lalu kumulai untuk lari. Keren, banyak orang uang jogging dengan kelengkapan yang berbagai macam. Tentu saja dengan gaya masing masing. Ya di monas ini juga merupakan etalase buat bergaya, sporty style.

Aku mulai meningkatkan sprint lariku. Setengah putaran sudah. Aku mendapati rasa lelah menjalari pergelangan kakiku. Tapi tidak masalah paling juga karena tidak terbiasa, lagipula satu putaran hampir tercapai. Rasa lelah hebat menjalari dadaku hingga mulai merasuki kepalaku dan keseimbanganku goyah. Wow .. Aku hampir saja jatuh.

Segera aku tepikan langkahku dan duduk sambil mencoba untuk meregangkan kakiku. Aku masih limbung. Bahkan untuk berdiri lagi. Segera kuatur nafasku sambil mencoba mereka-reka apa kira-kira penyebab aku begini. Kuperhatikan tanganku, bergetar lemah. Aku mulai sadar kalau aku dehidrasi. Semalam Jakarta terlalu pengap sehingga menguras cairan tubuh. Dan sehabis subuh aku tidak sempat sarapan atau minimal minum teh.

Aku memperbaiki kesadaranku dan nafasku sudah mulai teratur. Segera aku melangkah ke pedagang minuman membeli minum. Sekalian beli bubur sumsum yang manis gulanya bisa membalikkan stamina. HhhhffTt.. Diujung timur monas aku duduk memperhatikan orang orang lalu lalang menikmati hikmat badan yang masih kuat. Aku sendiri masih terduduk sambil merangkai baris kata kata menjadi notes ini.

Memulai langkah baru

Mei 9th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Memulai langkah baru di tempat baru. Ini adalah pilihan dan ini harus dijalani.

Waiting..The cronicles.

April 18th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Menunggu masa dimana sesuatu dapat memenuhi segala keinginan angan. Minimal keinginan angan untuk saat Ini ..
Saat harapan itu datang. Tetap saja semua masih harus ditunggu, meski harapan itu hampir-hampir memenuhi seluruh keinginan angan.

Aku hampir saja berhenti menunggu Dan mengubur harapan itu. Sampai kubaca ujung sebuah pesan Di inboxku : “Yang belum telihat, bukan berarti tidak ada. Yang belum berhasil, bukan berarti gagal”.

Aku masih menunggu. Akhirnya.

Sepatu, Sebuah Memoar bersambung.

April 17th, 2011 § 1 Komentar

Sepatu,  Sebuah Memoar bersambung.

Omelan emak masih belum habis. Saat aku mencoba meminta untuk dibelikan sepatu, guna mengganti sepatu warisan kakak yang sudah usang. Lagipula semenjak smp sampai sma sekarang belum sekalipun aku pernah dibelikan sepatu baru.

“Sepatu yang mana kamu mau beli nak, emak hanya punya sedikit uang jangan dibelikan lagi macam-macam ya” dengan sedikit mengomel, emak menanyakan sepetu jenis apa yang aku mau. “itu mak, sepatu yang bintang iklannya hedi yunus, questa. Coba cari deh di tukang kredit di sekolah, kan katanya boleh pesan sepatu jenis apasaja, nanti bulan setelah emak gajian boleh dibayar.” Kataku memberi penjelasan detail ke emak tanpa berpikir mana ngerti emak siapa hedi yunus. Meskipun emak guru SD, tapi di kampong ini jarang ada yang tahu siapa sih hedi yunus. Aku sih pasti, sering aku dengar dari tivi lagunya, yang diputar di mtv. Iya MTV, iya aku udah jadi anak nongkrong, sewaktu awal-awal MTV di Indonesia. Iya meski itu mencantol ke parabola tetangga. Lumayanlah anak kampung seperti aku sudah kenal MTV.  “besok mak tanya deh tukang kreditnya, sepatu yang tadi kamu bilang” Kata emak sambil mencatat detail penjelasanku tadi. Sepatu starmon questa, model hedi yunus. “ini mak gambarnya” dengan semangat aku memperlihatkannya ke emak.

Tiga minggu berlalu, kabar sepatu idamanku belum ada kejelasan. Sampai tadi siang emak memberiku uang tiga puluh ribu. “tukang kreditnya tidak menemukan model yang kamu maksud, ini ambil ini saja. Simpan uangnya dulu. Nanti kalau kamu masuk sekolah, kamu kan bisa cari sendiri sepatu di kota.” Seperti biasa emak menjelaskan dengan sedikit mengomel.    Aku kecewa. Sepatu idaman tidak bisa dipakai saat masuk sekolah nanti.

**

“kita masih punya satu formulir PMDK lagi, ini kalau tidak diambil, maka sekolah kita akan diblack list di Universitas itu, dan resikonya sekolah kita tak akan dapat jatah lagi selama lima tahun.” Demikian Pak Hasan, guru fisika-ku menjelaskan di depan kelas 3 IPA 1. Semua siswa favorit dan beberapa siswa yang mencoba peruntungan, telah membeli dan mengisi formulir itu. Tentu saja semua memilih jurusan favorit. Yang tersisa hanya satu jurusan yang menurutku seharusanya favorit, tapi dihindari siswa-siswa pintar yang kebanyakan perempuan, Jurusan Teknik Mesin. Aku merasa tertantang dengan adanya peluang ini. Apa salahnya menurutku, selain mengadu peruntungan agar bisa masuk perguruan tinggi favorit dengan bebas tes. Aku juga bisa membantu sekolahku untuk terhindar dari black list.

“benar kamu mau ambil formulir itu?” tanya pak Hasan. “iya pak” Jawabku. “Siapkan uang tiga puluh ribu ya, ini pengganti formulirnya, memang aturannya seperti itu” penjelasan pak Hasan, seolah mencoba membaca mukaku yang sedikit memelas dan mengkerut, seolah ingin memprotes harga formulir itu.   Lama berpikir, akhirnya aku memutuskan mengambil formulir terakhir itu. Uang pemberian emak dua minggu lalu memang masih utuh, belum sempat menjadi sepatu. Pikiranku berputar segera mencari akal, kalau emak menanyakan sepatunya. Ya mau tak mau aku harus menjelaskannya ke emak sore ini, ini kan jadwal aku balik ke kampong. Memang setiap dua minggu aku balik ke kampong.

Sampai di rumah, emak langsung interogasi. “mana sepatunya? Coba emak lihat. Ayo mana?”Tanya emak dengan mendesak. ”anu, mak. Sepatunya mahal-mahal, jadi aku tidak beli sepatu.” Jawabku tergagap. “tapi tenang mak, uangnya telah aku belikan formulir PMDK. Nah dengan formulir ini aku bisa masuk ke perguruan tinggi di kota tanpa tes” Jelasku dengan bersemangat. “sudah mak duga, pasti uangnya tidak jadi sepatu. Ya terserah kamu, yang jelas tahun ini kamu tidak akan punya sepatu. Emak tidak bisa membelikanmu lagi” Kali ini emak tidak terlalu mengomel, tapi itu berarti aku harus mereparasi sepatu butut warisan itu untuk kesekian kali, agar masih bisa dipakai.

“mudah-mudahan kamu lulus nak, kamu memilih ini,  artinya kamu sudah dewasa, bisa memutuskan apa yang baik buat kamu. Tak masalah kamu tidak beli sepatu, tapi kamu bisa lulus bebas tes masuk perguruan tinggi .” kata-kata emak membuatku terharu dan memberiku semangat, sebab emak seperti sudah yakin aku pasti lulus PMDK itu.

***

Awal  kenaikan kelas 3 aku sempat mendapatkan rezeki berupa hadiah kemenangan dari lomba Biologi yang diadakan di sebuah Universitas di kota. Tidak juara sih, juara 2 tepatnya. Sebuah hadiah voucher kursus dan beberapa hadiah dari sekolah. Dengan rezeki itu, kemudian aku gunakan untuk membuat celana bahan seragam sekolah.

“kamu cakep juga ya, seperti andi lau.. Hhahaha” puji zul, teman sekelasku yang playboy. Aku hanya tersenyum dalam hati sambil berharap semoga saja si Zul ini tidak mengincar cewek yang aku incar. Iya dengan gaya yang rapih setelah membuat celana bahan, pujian dari Zul sangat mengejutkan.

Dalam penampilan yang demikian, memang aku berhasil memacari seorang  gadis yang diperebutkan banyak orang. Dia masih kelas 1 waktu itu dimana aku selalu memberinya kebanggaan dengan prestasiku di sekolah.

“kenapa sih kak, sepatunya tidak diganti ? “ tanya Tina, namanya. nama yang manis. “Sayang, sepatu ini masih bagus. Masih cukup bagus untuk dipakai ke sekolah” jawabku berdalih. “ tapi kak, itu sudah sangat tua. Kakak tidak malu ? “ tanyanya lagi. Dalam hatiku, sebenarnya iya. Aku sangat malu dengan kondisi ini. Tapi aku tetap harus kuat, ini masih cukup, lagipula aku masih sukses memacarinya dengan kondisi sekarang. Pikiranku berputar-putar mencari dalih. Tak kujawab tanyanya sebab dipotong bunyi bel masuk. Aku hanya menitipkan sedikit kalimat “Yang penting kamu sayang aku kan.”

Pikiranku tentang sepatu selalu menghantuiku. Terus terang sepatu yang kupakai sekarang ini sudah sangat tidak wajar lagi. Solnya sudah hampir habis dan hampir menembus telapak kakiku. Sehingga hampir menjelang kelulusan, aku masih menggunakan sepatu itu. Tetapi Tina tidak bersamaku lagi. Tadinya kupikir dia menghianatiku. Belakangan kuketahui dia dijodohkan oleh orang tuanya.

****

Saat pengumuman kelulusan sekolah tiba. Tentu saja aku lulus. Kusegerakan diri untuk menghadap emak menyampaikan kabar baik ini. Dengan segera aku mempersiapkan diri ke kota untuk mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota.

Aku mendapatkan voucher gratis bimbingan belajar untuk persiapan UMPTN.  Dan aku menggunakan hak tersebut bersama seorang temanku yang lain. Akhirnya kamipun mengikuti bimbingan belajar tersebut. Tentunya dengan sepatu bututku.

“Nang, kamu lulus PMDK.!” Seru sofyan temanku di Bimbingan Belajar. Aku bertanya “tahu dari mana bos?”. “dari adik aku yang kelas 2” Jawabnya.  “kamu harus pulang dan mengurus segalanya teman, aku ucapkan selamat ya. Kamu memang membanggakan.” Tambahnya lagi.

“iya teman, aku akan pulang besok ya” Jawabku dan segera aku mempersiapkan diri untuk persiapan pulang.

*****

“nak, syukur Alhamdulillah atas kelulusanmu ini” ucap emak saat aku menyampaikan hasil pengumuman yang aku ambil dari sekolah tadi siang. “mak, doakan ya mak. Semoga aku sukses di kota” Pintaku ke emak sambil berlutut. Segumpal kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi dadaku. Sungguh ini lah pencapaianku yang paling penting.

*****

Aku memandangi celana bahan SMA ku yang memberiku berbagai kisah manis selama aku sekolah. Aku terbawa mundur menerawang berbagai kisah termasuk betapa hancurnya hatiku saat aku putus dengan Tina-ku, gadis pujaanku yang ayu seperti ayunya Paramitha Rusadi. Aku kadang senyum, kadang beberapa bulir air mata membentuk aliran di pipiku. Aku merasa sangat sedih dan gembira.

“bos, celanamu untuk aku saja ya. Bagus modelnya” Andi adik kelasku yang juga tetanggaku, yang tiba-tiba ke rumahku  untuk mengucapkan selamat. Aku terkejut “Iya, boleh”. “tenang aja, aku tukar dengan sepatuku itu. Selalu di tangkap sama satpam karena warnanya bukan hitam, hehehehe” ucap dia menawarkan barteran.   Aku menyambut dengan sangat gembira, “ oke bos. Ini celananya, potongannya pasti pas, karena ukuran kamu pasti sama dengan aku kan?. Segera dia berlari ke rumahnya dan kembali membawa sepasang sepatu warna abu-abu, masih lumayan bagus bahkan masih sangat baru.

******

Aku memandangi sepatu barteranku. Sangat pas dengan kakiku dipadukan dengan celana bahan warna coklat militer dengan potongan Rapper (yang waktu itu lagi tren). Aku berangkat kembali ke kota. Aku akan langsung masuk Universitas Negeri ternama tanpa melalui tes.  Sepanjang jalan aku memandangi sepatuku.

Pagi

April 9th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Kicau burung pagi masih Ada.. Ini Jakarta bung!!.. Iya emang, tapi masih Ada kok burung-burung yang berkicau di pagi Ini.. Walau Ini di tengah kota… Masih Ada yang setia untuk tetap bertahan di sini.. Walau cuma beberapa menit.. Kicauan burung itu tetap menjadi penolongku, penyemangatku di pagi hari.. Kecuali Ada yang mengubah nada alarmku…

Test surel BB

April 4th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Test surel via BB….

quote

April 3rd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Pekerjaan merupakan kebanggaan. Rasa bangga itu muncul ketika mereka telah melakukan pekerjaan dengan baik.

- Myelin by Prof. Rhenald Kasali -

lag pada kehidupan

April 2nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar

Aku tak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan Ini.. Energi kegairahan seolah lenyap dengan terkuburnya semangat… Hhhhhhh… Kuhela nafas .. Semoga Ini bukan permanen .. Ini hanya lag kecil pada kehidupanku.. Dan kuharap esok aku bangun dengan kegairahan dan semangat baru.. Aku ingin sukses…..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.