dimensi 30
Oktober 25, 2009
Akhir-akhir ini aku perasaan frustasi sering melandaku. Aku merasa frustasi dengan pencapaian hidupku. Setelah bertahun-tahun bekerja, aku merasa datar tanpa pencapaian yang berarti. Kecuali lompatan besar kepindahan kerja dari tempat lama, selain itu aku merasa tidak ada pencapaian lebih.
Beberapa hari lalu, kugenapi umurku menjadi 30 tahun, sebuah titik pencapaian yang menyisakan tagihan kehidupan baik itu dari dalam diri maupun dari luar. tagihan berupa pertanyaan hidup sejauh mana pencapaianku selama ini. Lalu apa ukurannya? Dari dalam aku tak bisa ukur, setiap pencapaian selalu menyisakan tagihan berikutnya. dari luar kebanyakan masalah pencapaian fisik, sudah punya rumah? Sudah punya Mobil? Sudah gemuk? Sudah punya Anak? Sudah membawa orang tua naik haji? Alhamdulillah hampir semua aku belum capai. Kecuali aku sudah punya anak yang lucu dan Istri yang cantik.
Sebenarnya tagihan dari luar lah yang membuatku frustasi. Seringnya pernyataan yang menyangsikan setiap perubahan dan pecapaianku saat ini membuatku lemah dan tak berdaya. Terkadang terpuruk dan menangis.
Di usia ku yang ke 30 ini aku ingin menata hidupku lagi. Menjadikan setiap pencapaian memiliki monumennya masing -masing. Salah satunya adalah menulis di blog ini dengan produktif.
aku ingin bisa membuat suatu karya besar suatu saat. Sebuah proyek yang aku sendiri masih bingung seperti apa. Aku hanya punya cita-cita.
Membuncah
Oktober 25, 2009
23.10.2009 22:05
Kunci kamar kos kucari dalam kantong tas. Kebiasaan yang sudah lebih setengah bulan dilupakan. Ada perasaaan yang lain, seperti kala kutinggalkan kamar ini seminggu lalu. Rasanya sangat sepi dan sedih.
Lebih dari tiga minggu sebelumnya, istri dan anakku mendampingiku. Meskipun harus menumpang di kamar kos ini. Dan demi menghindari komplain dari penghuni kos yang lain, istri dan anakku jarang keluar kamar kecuali untuk makan dan mandi. Ada rasa bahagia ketika melihat anakku yang lucu bermain sendiri dengan mainan seadanya di kamar yang sempit ini terlebih lagi istriku yang cantik selalu menungguku pulang ketika sore tiba.
Aku memutuskan untuk memulangkan mereka dulu, sebab kami belum mendapatkan rumah kontrakan. Terdapat rumah yang kami putuskan akan kontrak, tetapi saat ini rumah tersebut masih dikontrak oleh orang lain. Dan kalo tetap tinggal di kost, pasti suatu saat kami akan dikomplain oleh penghuni kost yang lain. Lagipula sekarang menjelang akhir proyek tempatku kerja, saya akan lebih sering meninggalkan mereka.
Ada hal menagih di perasaanku saat ini. Ketika aku sampai di depan pintu kamar, mendengar bunyi sepatuku atau ketukan di pintu, anakku pasti lari dan berteriak “etta” dengan artkulasi yang masih cadel. Etta artinya ayah, waduh aku menagih rasa itu. Tapi kini aku membuka pintu sendiri dan kemudian menyendiri dalam kamar. Sungguh aku merindukan mereka. Perasaan itu membuncah..memenuhi dadaku. Seperti juga sms istriku “puang, dadaku rasanya sesak, menghadapi ini”. Sabar dan ikhlas sayang, kita pasti akan berkumpul lagi.
25.10.2009 05.30
kudapati bola, mainan anakku yang lain, baju-baju yang ditinggalkan. Kesedihanku memuncak. Aku rindu mereka.
Pekerjaan Yang Tinggi Posisinya
September 9, 2009
Tiba-tiba saja saya ingin mencatat ini setelah bertemu teman lama (baca : setelah bertemu di Facebook). Teman yang ini kualitasnya spesifik karena punya kemampuan melucu di atas rata-rata teman-temannya yang lain yang “mungkin” terlalu serius. Ya kalo istilah iklan “ga ada lo ga rame”.
Teman ini seorang PENERBANG. Memang tak terbayangkan dulunya bahwa dari salah satu daerah yang terkenal dengan tradisi bahari, dagang dan pertaniannya bisa juga melahirkan kemampuan non alamiah, yang berlepas dari “pakem” alami daerah itu : PENERBANG. Bayangkan kamu bisa menyaksikan lebih luas alam ini dari ketinggian yang nalar alami kita hanya setinggi pohon kelapa yang menjuntai di kebun teman kita ? Tapi ini lebih tinggi teman…buang jauh-jauh logika pohon kelapamu…dari sini berpuluh atau bahkan beratus pohon kelapa jaraknya.. (lebay kali yah…secara hampir semua orang pernah naik pesawat kali..ekekeke). eh jangan salah..ini penerbangnya, kita-kita biasanya jadi penumpang aja kan. lah dia Pilotnya, kalo di burung kita hanya kutu di bulu burung itu, dia otak burung itu. Any question.?
Kembali ke pohon kelapa yang meski telah dicampakkan tadi tapi masih kita butuh untuk menjadi premis di note ini. Pernah saya mendengar lagu bugis (modern) buatan Pinrang atau Pangkajene - sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Ini berhubungan dengan ketinggian, pohon kelapa dan pekerjaaan. Ilustrasinya begini. Ada seorang gadis yang cantik, orang tuanya kaya …gadis ini jadi incaran banyak bujang, duda, baik yang masih segar maupun yang sudah uzur. Tapi orang tua si gadis mensyaratkan kalo mau mempersunting anaknya syaratnya agak berat, Haruslah laki-laki yang pekerjaannya di posisi yang tinggi. Maka satu persatu mundur teratur lah laki-laki yang merasa tidak bisa memenuhi syarat itu. Iya pantaslah, kebanyakan petani, pedagang..bahkan kekasih si gadis ditolak lamarannya hanya karena pekerjaaanya berposisi terlalu rendah “penggali sumur”. Alhasil yang berhasil mempersunting gadis ini akhirnya memang laki-laki yang pekerjaannya di posisi yang tinggi : Pemanjat Pohon Kelapa. Masih adakah posisi yang lebih tinggi dari pekerjaan seorang pemanjat pohon kelapa..?
Tapi waktu itu mungkin tidak terpikir. Jika saja benar gadis itu benar-benar cantik dan orang tuanya mensyaratkan pekerjaan posisi tinggi…tentulah saya mengajukan teman kita yang penerbang ini.. sejauh atau setinggi apa batas syarat orang tua si gadis itu…saya yakin mereka akan tergagap…adakah yang lebih tinggi dari berpuluh puluh atau beratus pohon kelapa ketinggiannya..?
hmmm…Syukurlah teman kita ini telah menikah dan saya yakin mertuanya dulu tidaklah mensyaratkan suami anaknya mempunyai pekerjaan di posisi yang tinggi. Wassalam.
Resistensi membuatmu persisten
Agustus 8, 2009
sekedar mencatat hal yang “mungkin” gak penting…
Resisten atau penolakan orang lain terhadap sesuatu yang kita lakukan atau tawarkan terkadang membuat sakit hati. apa yang sanggup kita berikan telah kita persembahkan, tapi kadang penolakan, cibiran, sindiran yang kita dapatkan. larii….? gak ..ini bukan pilihan. saya tetap memilih untuk mendengar dan menerima semua..tapi diam-diam dalam hati, saya mencatat segala hal yang kurang, segala hal yang bisa diperbaiki ke depan, segala kelemahan…
iya..tadinya saya tidak sadar kalo kita ini pasti butuh semua penolakan itu..Tapi kita memang butuh, agar kita tahu bahwa tak ada hal yang harus membuat kita menyerah..kita juga tahu bahwa kita pasti bisa mencapai level dimana akan dihadapkan pada pilihan mencibir atau memuji…kita pasti bisa …pantang menyerah….ukurlah seberapa kuat dirimu menghadapi resistensi.
Sebotol Air
Agustus 4, 2009
Blog, selamat datang kembali….
Hidup di Jakarta memang sulit ya, terutama bagi perantau seperti saya. Kehidupan yang serba cepat, kadang tidak bisa diimbangi dengan langkah biasa. Harus ada energi lebih untuk bisa tetap berjalan mengikuti irama kehidupan. Butuh usaha dan pembiasaan serta kesabaran yang tinggi untuk menjalani ini semua.
Mulai dari bangun lebih pagi, memburu bus, tumplek blek di atas bus, memotong jalan yang ramai, berjalan di panas terik siang hari, pulang tengah malam, cari makan tengah malam, bangun tengah malam, kehausan tengah malam, kegerahan tengah malam, terperangkap rasa sepi kala hari libur, terikat rasa malas di tempat tidur, tersesat dalam mimpi dalam tidur di akhir pekan yang sepi, tenggelam dalam gunungan sampah sisa makanan dan sampah pikiran, larut dalam angan keberlimpahan, tenggelam dalam lamunan penuh senyuman…hhhhhhhhhhh….kelelahan ? iya …
Jauh dari keluarga, istri dan anak-anak, adalah sebuah pengorbanan yang teramat besar. Demi memburu kehidupan yang lebih baik, harus ada pengorbanan, untuk sebuah cita-cita selalu ada yang harus direlakan. Mungkin ini akan menguras energi raga dan menyentil kesabaran. Sejauh ini masih bisa dijalani dengan senyum dan optimisme. Dan ketika tertidur karena kelelahan dan terjaga tengah malam karena kegerahan, dan kehausan tengah malam….sebotol air selalu siap untuk mengaliri setiap bagian yang kering dan membasahinya sehingga tidur terlelap lagi menyemai mimpi hingga pagi.
Saxophonist di atas jembatan, menunggumu di atas Bus
April 10, 2009
Suatu malam aku pulang dari kantor, saat suasana masih cukup ramai, jam menunjukkan pukul 7 di malam hari. Gegas aku jalan selepas keluar dari lift dan segera kumenuju ke jembatan penyeberangan. Jembatan yang juga berfungsi sebagai shelter busway tersebut cukup panjang dan melelahkan untuk didaki. Mungkin juga karena aku sudah kecapean seharian di kantor. Sesekali di beberapa sisi jembatan, pengemis dan pedagang kaki lima menghiasi lorong sempit jalanan jembatan tersebut.
Sedari tadi aku mendengar suara sengau bak terompet klakson bus. Tapi yang ini agak harmonis dan seperti irama yang dimainkan. Hmm..sepertinya ada yang bermain terompet. Aku memastikannya lebih jelas, saat langkhaku sudah mencapai lantai jembatan. Jauh di tengah, seorang ibu dengan gaya khas bak pro meniup terompet sejenis saxophone. Suara sengau yang keluar dari alat musik itu, membawaku larut dalam angan. Ditambah semilir angin memaikan cardiganku yang sengaja tak kukancing. Pikirku, ada sebuah sajian jazz yang lumayan untuk dinikmati sejenak. Enak karena blues banget (halagh..ngarti gak blues).. suatu saat aku ingin dia memainkan lagu favoritku. Ya lagu-lagu kenny g dan dave koz. Angan itu bermain di benakku. Sambil menyimpan uang seikhlasnya di tempat uang ibu saxophonist itu, aku beranjak pergi sambil sesekali menoleh ke ibu itu. Rasa kagum memenuhi dadaku. Dia pasti seorang pejuang keluarga. Mengamen di belantara jakarta yang keras ini. beruntunglah ibu itu masih punya keterampilan memainkan saxophone, sehingga gaya mengamennya cukup unik dan mempunyai daya
jual yang pantas dihargai.
Aku masih mendengar sayup-sayup bunyi saxophone saat masih di bawah jembatan. “berhentiah sejenak ibu, istirahatlah dan bermainlah lagi jika sudah ada yang lewat jembatan” gumamku dalam hati. Bus jurusan ke arah kost sudah datang. Aku naik dan duduk di tempat yang agak kosong. Malam itu agak ramai dan macet di jalur yang kulalui. Agaknya sebagian besar pekerja yang tinggal di Jakarta ingin memanfaatkan long weekend akibat pemilu ini. jalananpun sesak dan Bus melaju lambat bak siput. Dua orang pengame muda dengan modal masing-masing memegang gitar. Salah satunya mulai berbasa basi dengan khas pengamen. “selamat malam bapak ibu, kami di sini berdiri untuk menghibur bapak ibu….bla..bla..bla “ hingga kemudian petikan gitar mulai memenuhi seisi bus yang memang agak kosong. Satunya memainkan instrument dan yang lainnya memainkan melodi. Lumayan menurutku. Pikirku pasti lagu yang ingin dibawakan ini adalah lagu wajib pengamen seperti lagu-lagu dari band ST12 yang sedang naik daun itu. Tiba-tiba jeda sejenak petikan gitar mereka, vokalis salah satu dari mereka mulai masuk dengan bait “sekian lama, aku menunggu, untuk kedatanganmu…bukankah engkau telah berjanji, kita jumpa di sini, datanglah …kedatanganmu kutunggu..”. wah larinya ko jadi dangdut neeh. Menunggu. Tapi asik juga. Emang sih lagu ini sekarang agak naik daun lewat aransemen ulang band sonet 2009nya Kak ridho rhoma (istilah anak muda tetanggaku di kampung). Aku menikmatinya, sebab permainan gitarnya dan vokalnya emang asik didengar. Goyang..? ah bus ini sudah cukup goyang kok. Kadang melaju kencang. Tapi tiba-tiba ngerem, membuat seisi bus menjadi otomatis goyang.
Hanya sebuah lagu yang dimainkan oleh para pengamen itu. Aku sendiri kembali melamun sambil mengamati sisi jalanan yang macet. Aku menunggu cukup lama di atas bus hingga aku bisa sampai di halte tempatku biasa turun.
Pria Kemayu Dan Pria India
April 10, 2009
Hari pertama di tempat kerja yang baru tidaklah terlalu istimewa. Kantor kami berada di lantai 28 sebuah gedung berarsitektur modern, yang kalau aku bilang arsietktur yang aneh, tepatnya di bilangan mega kuningan. Kami menempati ruang yang cukup kecil yang hanya sekedar untuk menjalankan aktifitas perusahaan. Kami juga punya beberapa virtual office yang bisa kami pakai jika sangat dibutuhkan, aku melihat gaya berkantor seperti inilah yang lagi tren sekarang.
Karena kantor kami kecil, terkadang kami harus meeting di lounge yang digratiskan oleh pemilik perusahaan rent office tersebut. View dari lantai 28 di lounge tersebut sangat indah. Kalau membutuhkan ruangan meeting yang lebih privat atau lebih besar. Kami harus reservasi dulu. Menurutku berkantor dengan model seperti ini menjadi lebih efisien.
Hari itu kami memiliki meeting dengan konsultan beserta calon mitra kami. Semuanya berlangsung baik dan memiliki prospek yang cerah. Kami masih harus melakukan rally-rally meeting follow up untuk bisa memastikan kami bisa mendapatkan project itu.
Seperti diberitakan, hari itu hujan sangat keras dan bercampur badai. Korbannya, sebuah pesawat pengangkut TNI AU jatuh di Bandung. Kalau di jakarta, tidak sampai butuh waktu lama untuk genangan melimpasi seluruh jalanan protokol. Alhasil macetpun terjadi di mana-mana. Aku sendiri sedang mencari kost yang baru. Saat akan pulang, kira-kira jam 8.30. kemacetan belum beringsut dari jalanan. Aku putuskan untuk jalan kaki ke tempat yang lebih cepat mendapatkan angkot.
Saat aku jalan, seorang laki-laki tiba-tiba serta merta tersenyum dan berkata “boleh tidak pak minta-minta, maaf pak saya kehabisan uang. Boleh gak pak minta ongkos pulang”. Aku hanya melongo sebentar untuk memperhatikan orang itu, tak ada tampang pengemis, dan sedikit agak kemayu. Agaknya dia benar-benar kehabisan uang. Akupun merogoh kantong dan memberikan sejumlah uang sambil bertanya “ini cukup tidak” dan dia pun berkata “ Alhamdulillah, terimakasih pak. Aku bisa pulang”. Aku langsung beranjak pergi tak sempat menikmati kegembiraan pria tadi.
Aku terus berjalan, sampai aku menemukan kemacetan yang sangat parah. Di ujung pintu keluar sebuah gedung, tiga orang expat india berbincang satu sama lain. Yang kutangkap dari pembicaraan mereka adalah mereka mau pulang tapi mau naik apa. Dua orang diantaranya naik taksi seorang lagi memutuskan untuk naik kopaja. Aku tak mempedulikan mereka. Aku hanya berjalan sambil mencoba mencapai ujung perempatan jalan untuk mendapatkan bus yang tepat. Tiba-tiba disampingku berjalan lebih cepat pria india yang memutuskan untuk naik kopaja. Rupanya dia memutuskan untuk jalan kaki juga.
Wow…genangan di jalan denpasar sudah sangat mirip sungai. Aku mengikuti pejalan kaki yang lain, juga pria india itu untuk menyusuri sisi dalam jembatan untuk mencapai ujung perempatan jalan yang berada pas di bawah jembatan. Satu persatu motor yang mencoba menerobos genangan berhenti dan mogok, raungan motor yang lain terdengar sana sini setelah mesinnya sudah bisa nyala lagi. Akhirnya bus yang ditunggu tiba, aku naik dan mengambil tempat duduk paling belakang.
Beberapa meter ke depan bus berhenti lagi, eh si india lagi neeh. Dia ternyata bisa menyeberang ke sana toh. Tapi karena di sekitar lampu merah, bus tidak bisa berhenti total, pria india itu mencoba meloncat ke atas bus beberapa kali tapi tidak bisa. Pada percobaan terakhir, akhirnya bus berjalan tapi dia tidak naik juga.
Aku menghabiskan waktu di starbuck kafe menunggu redanya macet. Sambil minum aku membuka laptop dan mengupdate sesuatu. Beberapa teman sesekali menyapa lewat chating. Aku juga membalas beberapa email.
why i resign
April 10, 2009
Pada sebuah catatan tentang rencana hidup aku beberapa tahun lalu kutuliskan sebuah statement yang berbunyi : “aku akan berhenti dari perusahaan tempat aku bekerja tepat setelah 5 tahun masa kerja”. Di catatan yang lain menegaskan “Pada bulan Maret 2009 aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan di sini”. Bahkan lebih tegas lagi kepada beberapa teman di luar kantor aku sering mengatakan “aku punya orientasi jadi konsultan, tapi setidaknya aku keluar dulu dari pekerjaan sekarang”. Dari kesemua statement itu hampir semuanya lahir secara spontan sebagai resolusi pada masa tertentu dimana aku memikirkan tentang masa depan.
Aku tidak tahu apa rencana Tuhan tentang kehidupan aku. Aku hanya melakukan resolusi itu secara spontan dan tanpa orientasi lebih, selain sekedar mencoba memetakan rencana kehidupanku. Tak lebih. Alhasil, aku sendiri sudah mulai lupa tentang resolusi-resolusi tersebut, namun saat semua terjadi dengan detail yang sangat mirip dengan yang aku rencanakan, aku menjadi takjub akan kekuatan kalimat harapan. Tak istimewa memang.
Ya..akhirnya waktu itu datang juga. Tidak terlalu tepat memang, tapi nyaris tepat. Hanya sekitar 10 hari dari tepatnya 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini, akhirnya aku mengundurkan diri. Tanda-tanda bahwa semua rencana itu bakal terwujud, dimulai di awal bulan maret. Seorang head hunter dari Singapura menelfon aku. Aku sendiri tidak merasa pernah mengirimkan aplikasi kemanapun apalagi ke Singapura. Ternyata mereka melihat CV aku di LinkedIn. Wow..interview pakai Bahasa Inggris pula, baru pertama neeh. Gugup dan serba salah jadinya. Tapi untungnya masih bisa nyambung dan terus berlanjut hingga tigakali interview. Tapi hingga saat ini kelanjutannya belum jelas. Seminggu berikutnya, datang chating dari seorang teman di Linkedin juga. Dia meminta CV aku . Beberapa hari kemudian kami pun menyusun janjian untuk interview via YM. Semua berjalan lancar dan dia berjanji akan meneruskannya ke bagian HRD mereka di KL (kuala lumpur..hhh). Inipun belum ada follow upnya sampai sekarang.
Dan seminggu kemudian datanglah telfon dari seorang saudara dan mengajak bergabung dengan perusahaannya. Tawaran gajinya menurutku lumayan juga. Ini tepat hari dimana 5 tahun aku bekerja di perusahaan ini. Tapi aku masih mencoba meminta waktu untuk mempertimbangkan segalanya termasuk kondisi proyek yang sedang ditangani sekarang.
Setelah hampir seminggu berlalu dan hampir setiap hari aku ditelfonnya, akhirnya aku mengiyakan. Inipun setelah mempertimbangkan pendapat dari istriku. Menurutnya kami butuh perubahan dan itu hampir tidak mungkin datang dari perusahaan tempat bekerja sekarang. Lama sudah aku pikirkan dan pertimbangkan dan memang sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan ini. Lagipula meskipun memaksa terus tinggal “demi” proyek SAP itu, aku melihat proyek ini tidak bisa mencapai terget baik waktu maupun kualitasnya. Tapi aku punya alasan sendiri kenapa berhenti. Yang kutahu ini adalah rencana hidup. Hidupku sampai saat notes ini masih harus menumpang di rumah mertua yang menurutku juga sangat tidak layak untuk menampung kami. Inilah yang menjadi pertimbangan istriku yang membuatku tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan itu, meskipun pada akhirnya bisa saja aku tambah sengsara dengan pilihan ini tapi peluang untuk bisa memiliki kehidupan yang lebih baik juga jauh lebih besar. Dan aku harus berani untuk mengambil tantangan ini.
Oh ya, aku belum jelaskan ke mana aku pindah. Jika ada yang berpikir aku mendapatkan pekerjaan ini karena ada teman-teman konsultan yang membukakan jalan dan menyarankanku untuk pergi atau kemudian mengajak gabung di proyeknya yang akan datang, ini adalah anggapan yang salah besar dan bisa jadi prasangka ini berbuah fitnah. Aku harus luruskan bahwa tidak ada sama sekali dari teman-teman konsultan yang berlaku demikian. Kalau selama ini kami cukup dekat, hal itu adalah wajar sebab kita adalah partner kerja. Apalagi selama di Makassar, kita selalu satu bus ke pabrik. Bagiku teman-teman konsultan adalah guru dan teman berbagi yang sangat pemurah dalam membagi ilmunya dan terbuka untuk bertukar pikiran. Dalam beberapa hal kita bisa saling melengkapi. Hmmm..bagiku, dunia konsultan SAP juga menjadi salah satu cita-cita besarku saat ini.
Lalu apakah aku bekerja sebagai konsultan di tempat lain? Tidak sama sekali. Aku kerja disebuah perusahaan kecil di bidang coal mining/tambang batubara. Sebuah perusahaan yang sedang merangkak, dan mungkin belum dikenal. Dari sini aku juga baru tahu kalau perusahaan batubara sangatlah banyak walau yang kita kenal segelintir saja. Nah perusahaan kami masuk ke dalam kelompok yang sangat banyak itu dan belum termasuk segelintir yang dikenal. Perusahaan kami menempatkan diri dalam core mining management, sebuah niche yang baru dimana penegasannya pada pengelolaan Mining Licence (KP) yang mati suri, melakukan refinancing sehingga tambang bisa berjalan kembali untuk kemudian masuk dalam manajemen pengelolaan tambang dan mengoperasikannya dengan pola royalti kepada pemilik KP. Sejauh ini kami sudah melakukannya untuk beberapa tambang.
Well, sangat jauh dari experience lama di SAP kan..? oh ya, khusus untuk ini memang aku tidak melalui sebuah proses rekruitment yang rumit sebab perusahaan ini masih akan bertumbuh bersama para pengelola awalnya, ya termasuk diriku. Jadi jangan dijadikan ukuran sebuah kesuksesan. Tapi bagiku, ini adalah rencana Yang Maha Kuasa.
Di tempat lama aku sebenarnya punya banyak uneg-uneg yang ingin aku ceritakan. Tapi aku tak mau sebab aku akan selalu teringat kata-kata ini. Menceritakan orang.. “jika benar bisa berarti Ghibah, jika salah akan berarti fitnah”. Jadinya biarlah uneg-uneg, keluhan, celaan, yang ingin kusampaikan tentang perusahaan tempat kerja yang lama biarlah menjadi milikku saja.
Kecuali bahwa aku sangat merasa berterima kasih atas kesempatan berkarya dan belajar yang banyak di tempat itu, bergaul dengan rekan-rekan kerja yang hebat, mendapatkan jodoh yang cantik, mendapatkan petunjuk langsung pimpinan yang mengayomi (terkhusus untuk Pak Kaslan). Saya bangga telah sempat menjadi bagian dari organisasi para pekerja keras yang telah menunjukkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi demi memberi kebanggaan dan kehormatan pada bangsa, negara dan agama, pada kejayaan perusahaan, dan pada kesejahteraan keluarga. Terakhir aku ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada owner, para founder pendiri bosowa group, bahwa organisasi ini telah sangat berkembang dan maju pesat sehingga sangat disegani sebagai organisasi yang masif tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga di bidang politik. Harapanku semoga tetap jaya di masa yang akan datang.
Di sini Hujan
Maret 18, 2009
aku masih bergelut pada pekerjaan yang mengerubungi saat hujan sebentuk bulir biji jagung menimpa kepalaku hingga menyentak kesadaranku untuk segera beringsut dari bawah pusaran awan hitam yang tampak kelelahan sehingga punggungnya berat untuk menahan bobot uap air yang menggelayutinya sepanjang sejak musim angin menghiasi hari-hari di bulan yang penuh warna kemerahmudaan menyembulkan tetulangan di sisi pelipi wajahmu yang menyemu menyembunyikan gurat kelelahan setelah hari memeluk diriku dan dirimu dan hanya melepaskannya ketika dia meminta untuk pamit kepada malam yang datang untuk menggantinya dan mengikat kita pada temali kelelahan dengan meninggalkan sesunyi pada temaram cahaya hingga hari kemudian datang lagi menagih dan membangkitkanku tanpa sempat walau sekedar membisikkan tentang kepergianku untuk berjibaku dengan gelut galayut pekerjaan sebab dirimu masih terikat pada mimpi yang mendekapmu sejak semalam yang temaram dan kita habiskan dengan tawa renyah dan sebulir air selaksana mengalir malu-malu mengiring tangis duka kita yang tiba-tiba menyela diantara tawa yang menderai berai sehingga pasak rumah kita yang memang sudah rapuh berderit seakan menjeritkan kelelahannya ikut menanggung beban orang-orang yang menghuninya dan tak henti mengguncangkan tiangnya sehingga seluruh papan pun tercerabut akibat aus dan paku yang terempas sana-sini
aku memikirkan rumah kita yang mungkin atapnya bahkan mulai beterbangan saat angin itu mengamuk di kampung kita sehingga meninggalkan rasa resah di hatiku sebab khawatir di mana lagi kita akan bernaung menagih kehangatan saat dingin dan basah merapat hingga ke ujung daging yang paling dekat dengan tulang kita yang rasa dinginnya mengilukan sendi-sendi hingga lututku bergetar dan bibirku mengeriput sambil berkomat kamit merapalkan mantra doa demi mengharap dan memohon di sini jangan hujan..
pemuja sepi
Maret 18, 2009
kau tuliskan,
kak..
kulihat lelah manggelayuti punggungmu
dan keringat mengering di bajumu
meninggalkan jejak siluet badan ringkihmu..
berhentilah sejenak,kak
istirahatlah di balai-balai rumah kita..
kujawab,
adik..
aku berhenti diujung tebing sepi
membaca pesanmu dan membilang hariku
gurat kelelahan sebanyak jumlah langkahku..
aku berhenti dek..
sejenak untuk sekedar memuja sepi
Nyanyian malaikat
Maret 18, 2009
Duhai mahluk yang lelah dengarlah kisah ini..
pada syair yang kulagukan sambil duduk dan melipatkan sayapku..
sambil memperhatikanmu memeluk mimpi..
mimpimu tentang bidadari..
telah kuperhatikan semua cinta di dunia ini..
tak ada cinta setragis cinta kumbang pada mawar..
mawar yang karena keindahannya yang melenakan
menarik semua kumbang untuk selalu datang menitipkan rayuan.
sampai mereka kutemui terkapar dengan luka tertusuk duri..
disamping mawar yang kering melayu..
aku tahu cinta kumbang tak tulus…
saat mereka menemui mawar sudah mulai memudar..
mereka merusuh dan membuat kerusakan
hingga mereka mati tertusuk lengan mawar yang serupa duri tajam..
oh, betapa tulus cinta mawar kepada sang lebah
dan kutahu lebah sangat mencintai mawar
karena sedihnya, sang mawar menitipkan sari yang manis bunganya
kepada kekasihnya sang lebah dan berpesan
kasihku, sampaikanlah manis sari ini kepada para pencari cinta
jadikanlah dia madu yang manis dan berkhasiat menyembuhkan
sehingga luka ini terobati dengan pengorbanan
Sang lebah dengan kesedihannya menjadikan sari itu menjadi madu yang berkhasiat
Yang memberi rasa manis setiap hati yang tak henti memujinya.
larut gelap malampun sirna oleh cahaya lilin sisa dari madu sari mawar
menerangi keriangan yang ditimbulkannya membuat pesta sehingga pagi
Walau tak ada yang sadar, keriangan ini dipenuhi oleh duka mawar akan cintanya pada lebah
hmmmm, hari mulai menjelang pagi saat mentari mulai menyinari ragamu kurapikan sayapku dan kubisikkan ke telingamu
hai mahluk yang lelah, bidadarimu tak datang malam ini ke mimpimu
tapi ketahuilah janji ini, “pada setiap cinta yang kau tabur kan semai kerinduan”
Ratapan kedukaan
Maret 18, 2009
Secarik kertas bertuliskan “karena Kita Adalah Sahabat”//Menyentak jiwaku mempertanyakan seberapa jauh kakiku melangkah meninggalkan sebuah pertemanan//Menuju ketiadaan yang tak berujung pada kesenangan atau kedukaan//dan ragaku seolah tercerap oleh waktu//meninggalkan jiwaku berkelana//duhai.. kedukaan…//dengan siapakah dan kepada siapakah aku menuju//aku tak tahu, sehingga tulisan itu menyadarkanku//memaksa jiwaku berbalik dan meninggalkan ragaku//dan menemukanmu dalam kedinginan dan sepi//tak pasti…langkahmu tertatih..tubuhmu melunglai//pada ujung sebuah jembatan yang telah lama kutinggalkan//Jiwaku terbimbing untuk segera memapah tubuh lunglaimu//dan kesadaranmu telah menjauh//tenggelam dalam lelap kelelahan //dan mungkin sebuah mimpi//sebab kutemui dirimu mengigau//sahabat..aku tak tega//melihat tubuh ringkihmu menggigil//dan bulir keringat mengucur deras..//kuselimuti tubuhmu dan kurapalkan sebuah ratapan kedukaan…
***kudedikasikan u/ sahabatku Daniel dan Anto***
Jubah kedukaan
Maret 18, 2009
aku tertartih-tatih
menyusun undak bebatu karang.
untukmu berdiri memandang horizon..
tempatmu mencari kepak burung camar…
ketika jubah kedukaanmu meluntur tercelup….
seketika mengubahnya menjadi gaun kesenangan…..
kala mata angin menderu selepas kepergian mata kehidupan…..
kemudian aku mengambil kaleng rombengku
dan berlalu membiarkanmu menikmati senja
dan memunguti kelelahan sebab kedukaan telah menantiku
kalengku, dendangku adalah jubah kedukaanku
yang kulagukan kala dirimu masih menagih keindahan
yang hilang dari wajah pantaimu
Cinta sederhana…
Februari 17, 2009
Aku cinta Kepadamu..Sederhana..
tak serumit cinta Api pada Kayu..
yang menyesali tak sempat mengucapkan..
kata cinta, sehingga bara asmara..
Lenyap, seumpama abu arang beterbangan..
Aku cinta kepadamu..sederhana..
Tak sesukar cinta Hujan pada Awan..
Yang menyesali tak sempat mengungkapkan..
Kalimat Rindu, sehingga hangat dekapan awan..
Sirna, meluruh, mengaliri sungai yang deras..
Aku cinta Kepadamu..Sederhana..
Cukup memastikan engkau dalam jangkauanku..
Untuk menitip kecupan hangatku pada keningmu..
Dan mengetuk pintu ruang di hatimu…
yang kau beri label namaku di ujung pintunya..
Aku cinta Kepadamu..Sederhana..
Kuungkapkan secara sederhana…
walau mungkin kau tak menyadarinya..
sampai aku berdiri di tepi jalan di ujung jembatan
menyambutmu dan mengungkapkan “aku cinta padamu”






