Quote

Desember 26, 2009

“People often hate those things which they do not know or cannot understand.”

Ref: Nahjul Balagha [ Saying # 172, Page # 693, Volume # 1 by Allama Syed Zeeshan Haider Jawwadi (Urdu) ]

Cerita-cerita Ibu

Desember 22, 2009

Untuk mengenang hari Ibu. berikut ini beberapa saduran dari Internet tentang kisah-kisah yang menggugah dari pengorbanan seorang ibu…
Read the rest of this entry »

Foto-foto saat outing di Maninjau

tahun pertaruhan

Desember 17, 2009

Tanpa disadari tahun 2009 tinggal menghitung beberapa hari lagi.  sebuah perjalanan waktu yang seolah tak terasa terus berputar hingga menyelesaikan satu siklus lagi.

Bagi saya tahun 2009 ini adalah sebuah tahun pertaruhan. Pertaruhan atas pilihan hidup untuk mengubah haluan yang mengorbankan bayak hal  dan mempertaruhkan masa depan. Betapa tidak, di tahun 2009 ini, sebuah keputusan besar yang saya lakukan sangat spekulatif dan berani kalau tidak mau dibilang konyol.  Tapi saya berani melakukannya dan menghadapi pertaruhan ini.  Dan akhirnya dalam beberapa hal pencapaian hasil ada yang bisa didapatkan, meski tak sedikit pula yang harus dilepaskan dan dikorbankan.

Di penghujung tahun ini, saya cuma berharap pertaruhan ini bukanlah hal sia-sia. Tahun depan hasil pertaruhan harus dapat ditunjukkan. Sehingga tahun depan bagi saya adalah tahun pembuktian

Kata salut saya harus sampaikan kepada saudara-ku yang satu ini.  Sejak masih sekantor, teman jalan, kemudian dia menemukan komunitasnya dan kemudian terbentuk menjadi seorang disegani di komunitas tersebut, dia menunjukkan kematangan perjalanan menuju kesuksesan.

Masih teringat waktu masih sekantor, kita masih sering bertukar pikiran.  Seperti biasanya dia selalu mempunyai antusiasme yang tinggi terhadap suatu masalah.  Sering kita berdiskusi tentang masalah blogging mulai dari saat dia benar-benar pemula hingga dia sudah mulai menapak pro bahkan sampai saat ini benar-benar pro.

Anak ini paling senang belajar dan harus diapresiasi. Meskipun sering keluar dari pakem-pakem standar berkantor seperti masuk jam 11 siang pulang jam 11 malam. Tapi kontribusi hasil pekerjaannya sangat bermanfaat. Data-data olahannya disajikan dengan rapi sehingga sangat bermanfaat bagi orang yang membutuhkan data tersebut. Pun ketika dia resign dari pekerjaan tetapnya untuk kemudian menjadi blogger pro, saya yakin hasil karyanya di kantor yang dia tinggalkan masih dipakai bahkan sampai detik ini sekalipun.

Saya tahu dan saya juga merasakan bagaimana apresiasi kantor terhadap orang-orang seperti anak ini. Dan akhirnya terkadang pilihan nurani yang paling menyakitkan yang harus dipilih. Nurani berkehendak bebas dari segala ikatan dan memberi ruang pada daya kreasi untuk berkarya lebih. Mungkin memang menyakitkan tapi pasti melegakan. Ibarat memecahkan bisul dengan paksa, yang walaupun sakit tapi akhirnya melegakan.

Akhirnya saya harus dan wajib mengakui bahwa saya salut atas pencapaian ahmad selama ini. Saya akan dengan senang hati meminta ahmad mengajari saya banyak hal dimana saya merasa tidak pernah beranjak dari status kepemulaan. Mungkin kemudian kedewasaan yang akan di ajarkan ahmad kepada saya, tapi apapun itu saya akan mengapresiasinya sebagai pengakuan rasa salut saya kepadanya. Satu kata kutipan daeng rusle (yang rasa salut saya padanya juga tak pernah habis) : “blog mu memang yg paling keren, Ahmad”

Selamat atas pencapaian selama ini, mari terus mencapai impian kita.

Padang, 10 Desember 2009,  12.00

jika saatnya tiba

November 29, 2009

 

 

 

 

 

 

 

jika saatnya tiba..
aku pasti datang..
dan menjemputmu..
membawamu ke suatu..
yang dekat dengan impian kita..
dan jika saatnya telah tiba..
kaukan hiasi harimu..
hanya dengan tawa dan senyum..
sambil sesekali menangis..
menangisi perjuangan hidup..
yang kita lewati bersama..

Merasa Kecil

November 24, 2009

Di bawah kubah tembaga keemasan..
aku merasa kecil..
sehingga semua kesombonganku lari..
bersembunyi di balik lipatan lutut sujudku…
untuk kemudian terserak …
dan mengairkan pengakuan..
Wahai Yang Maha Besar..
Kemana lagi memohon selain hanya Kepada Engkau ..
Wahai pemilik segala sesuatu….

Rindu Tertahan

November 22, 2009

Aku butuh kalian…
menghiburku ..
Memberiku energi…

dimensi 30

Oktober 25, 2009

30Akhir-akhir ini aku perasaan frustasi sering melandaku. Aku merasa frustasi dengan pencapaian hidupku.  Setelah bertahun-tahun bekerja, aku merasa datar tanpa pencapaian yang berarti. Kecuali lompatan besar kepindahan kerja dari tempat lama, selain itu aku merasa tidak ada pencapaian lebih.

Beberapa hari lalu, kugenapi umurku menjadi 30 tahun, sebuah titik pencapaian yang menyisakan tagihan kehidupan baik itu dari dalam diri maupun dari luar.  tagihan berupa pertanyaan hidup sejauh mana pencapaianku selama ini. Lalu apa ukurannya?  Dari dalam aku tak bisa ukur, setiap pencapaian selalu menyisakan tagihan berikutnya. dari luar kebanyakan masalah pencapaian fisik, sudah punya rumah? Sudah punya Mobil? Sudah gemuk? Sudah punya Anak? Sudah membawa orang tua naik haji? Alhamdulillah hampir semua aku belum capai. Kecuali aku sudah punya anak yang lucu dan Istri yang cantik.

Sebenarnya tagihan dari luar lah yang membuatku frustasi. Seringnya pernyataan yang menyangsikan setiap perubahan dan pecapaianku saat ini membuatku lemah dan tak berdaya. Terkadang terpuruk dan menangis.

Di usia ku yang ke 30 ini aku ingin menata hidupku lagi.  Menjadikan setiap pencapaian memiliki monumennya masing -masing. Salah satunya adalah menulis di blog ini dengan produktif.

aku ingin bisa membuat suatu karya besar suatu saat. Sebuah proyek yang aku sendiri masih bingung seperti apa. Aku hanya punya cita-cita.

Membuncah

Oktober 25, 2009

23.10.2009   22:05
Kunci kamar kos kucari dalam kantong tas.  Kebiasaan yang sudah lebih setengah bulan dilupakan. Ada perasaaan yang lain, seperti kala kutinggalkan kamar ini seminggu lalu.  Rasanya sangat sepi dan sedih.

Lebih dari tiga minggu sebelumnya, istri dan anakku mendampingiku. Meskipun harus menumpang di kamar kos ini. Dan demi menghindari komplain dari penghuni kos yang lain, istri dan anakku jarang keluar kamar kecuali untuk makan dan mandi.  Ada rasa bahagia ketika melihat anakku yang lucu bermain sendiri dengan mainan seadanya di kamar yang sempit ini terlebih lagi istriku yang cantik selalu menungguku pulang ketika sore tiba.

Aku memutuskan untuk memulangkan mereka dulu, sebab kami belum mendapatkan rumah kontrakan. Terdapat rumah yang kami putuskan akan kontrak, tetapi saat ini rumah tersebut masih dikontrak oleh orang lain.  Dan kalo tetap tinggal di kost, pasti suatu saat kami akan dikomplain oleh penghuni kost yang lain. Lagipula sekarang menjelang akhir proyek tempatku kerja, saya akan lebih sering meninggalkan mereka.

Ada hal menagih di perasaanku saat ini.  Ketika aku sampai di depan pintu kamar, mendengar bunyi sepatuku atau ketukan di pintu, anakku pasti lari dan berteriak “etta” dengan artkulasi yang masih cadel. Etta artinya ayah, waduh aku menagih rasa itu.  Tapi kini aku membuka pintu sendiri dan kemudian menyendiri dalam kamar. Sungguh aku merindukan mereka. Perasaan itu membuncah..memenuhi dadaku.  Seperti juga sms istriku “puang, dadaku rasanya sesak, menghadapi ini”.  Sabar dan ikhlas sayang,  kita pasti akan berkumpul lagi.

25.10.2009  05.30
kudapati bola, mainan anakku yang lain, baju-baju yang ditinggalkan. Kesedihanku memuncak.  Aku rindu mereka.

Tiba-tiba saja saya ingin mencatat ini setelah bertemu teman lama (baca : setelah bertemu di Facebook). Teman yang ini kualitasnya spesifik karena punya kemampuan melucu di atas rata-rata teman-temannya yang lain yang “mungkin” terlalu serius. Ya kalo istilah iklan “ga ada lo ga rame”.

Teman ini seorang PENERBANG. Memang tak terbayangkan dulunya bahwa dari salah satu daerah yang terkenal dengan tradisi bahari, dagang dan pertaniannya bisa juga melahirkan kemampuan non alamiah, yang berlepas dari “pakem” alami daerah itu : PENERBANG. Bayangkan kamu bisa menyaksikan lebih luas alam ini dari ketinggian yang nalar alami kita hanya setinggi pohon kelapa yang menjuntai di kebun teman kita ? Tapi ini lebih tinggi teman…buang jauh-jauh logika pohon kelapamu…dari sini berpuluh atau bahkan beratus pohon kelapa jaraknya.. (lebay kali yah…secara  hampir semua orang pernah naik pesawat kali..ekekeke). eh jangan salah..ini penerbangnya, kita-kita biasanya jadi penumpang aja kan. lah dia Pilotnya, kalo di burung kita hanya kutu di bulu burung itu, dia otak burung itu. Any question.?

Kembali ke pohon kelapa yang meski telah dicampakkan tadi tapi masih kita butuh untuk menjadi premis di note ini. Pernah saya mendengar lagu bugis (modern) buatan Pinrang atau Pangkajene - sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Ini berhubungan dengan ketinggian, pohon kelapa dan pekerjaaan.  Ilustrasinya begini.  Ada seorang gadis yang cantik, orang tuanya kaya …gadis ini jadi incaran banyak bujang, duda, baik yang masih segar maupun yang sudah uzur. Tapi orang tua si gadis mensyaratkan kalo mau mempersunting anaknya syaratnya agak berat, Haruslah laki-laki yang pekerjaannya di posisi yang tinggi. Maka satu persatu mundur teratur lah laki-laki yang merasa tidak bisa memenuhi syarat itu. Iya pantaslah, kebanyakan petani, pedagang..bahkan kekasih si gadis ditolak lamarannya hanya karena pekerjaaanya berposisi terlalu rendah “penggali sumur”. Alhasil yang berhasil mempersunting gadis ini akhirnya memang laki-laki yang pekerjaannya di posisi yang tinggi : Pemanjat Pohon Kelapa. Masih adakah posisi yang lebih tinggi dari pekerjaan seorang pemanjat pohon kelapa..?

Tapi waktu itu mungkin tidak terpikir. Jika saja benar gadis itu benar-benar cantik dan orang tuanya mensyaratkan pekerjaan posisi tinggi…tentulah saya mengajukan teman kita yang penerbang ini.. sejauh atau setinggi apa batas syarat orang tua si gadis itu…saya yakin mereka akan tergagap…adakah yang lebih tinggi dari berpuluh puluh atau beratus pohon kelapa ketinggiannya..?

hmmm…Syukurlah teman kita ini telah menikah dan saya yakin mertuanya dulu tidaklah mensyaratkan suami anaknya mempunyai pekerjaan di posisi yang tinggi. Wassalam.

sekedar mencatat hal yang “mungkin” gak penting…

Resisten atau penolakan orang lain terhadap sesuatu yang kita lakukan atau tawarkan terkadang membuat sakit hati. apa yang sanggup kita berikan telah kita persembahkan, tapi kadang penolakan, cibiran, sindiran yang kita dapatkan. larii….? gak ..ini bukan pilihan. saya tetap memilih untuk mendengar dan menerima semua..tapi diam-diam dalam hati, saya mencatat segala hal yang kurang, segala hal yang bisa diperbaiki ke depan, segala kelemahan…

iya..tadinya saya tidak sadar kalo kita ini pasti butuh semua penolakan itu..Tapi kita memang butuh, agar kita tahu bahwa tak ada hal yang harus membuat kita menyerah..kita juga tahu bahwa kita pasti bisa mencapai level dimana akan dihadapkan pada pilihan mencibir atau memuji…kita pasti bisa …pantang menyerah….ukurlah seberapa kuat dirimu menghadapi resistensi.

Sebotol Air

Agustus 4, 2009

Blog, selamat datang kembali….

Hidup di Jakarta memang sulit ya, terutama bagi perantau seperti saya. Kehidupan yang serba cepat, kadang tidak bisa diimbangi dengan langkah biasa. Harus ada energi lebih untuk bisa tetap berjalan mengikuti irama kehidupan. Butuh usaha dan pembiasaan serta kesabaran yang tinggi untuk menjalani ini semua.

Mulai dari bangun lebih pagi, memburu bus, tumplek blek di atas bus, memotong jalan yang ramai, berjalan di panas terik siang hari, pulang tengah malam, cari makan tengah malam, bangun tengah malam, kehausan tengah malam, kegerahan tengah malam, terperangkap rasa sepi kala hari libur, terikat rasa malas di tempat tidur, tersesat dalam mimpi dalam tidur di akhir pekan yang sepi, tenggelam dalam gunungan sampah sisa makanan dan sampah pikiran, larut dalam angan keberlimpahan, tenggelam dalam lamunan penuh senyuman…hhhhhhhhhhh….kelelahan ? iya …

Jauh dari keluarga, istri dan anak-anak, adalah sebuah pengorbanan yang teramat besar. Demi memburu kehidupan yang lebih baik, harus ada pengorbanan, untuk sebuah cita-cita selalu ada yang harus direlakan. Mungkin ini akan menguras energi raga dan menyentil kesabaran. Sejauh ini masih bisa dijalani dengan senyum dan optimisme. Dan ketika tertidur karena kelelahan dan terjaga tengah malam karena kegerahan, dan kehausan tengah malam….sebotol air selalu siap untuk mengaliri setiap bagian yang kering dan membasahinya sehingga tidur terlelap lagi menyemai mimpi hingga pagi.

Suatu malam aku pulang dari kantor, saat suasana masih cukup ramai, jam menunjukkan pukul 7 di malam hari. Gegas aku jalan selepas keluar dari lift dan segera kumenuju ke jembatan penyeberangan. Jembatan yang juga berfungsi sebagai shelter busway tersebut cukup panjang dan melelahkan untuk didaki. Mungkin juga karena aku sudah kecapean seharian di kantor. Sesekali di beberapa sisi jembatan, pengemis dan pedagang kaki lima menghiasi lorong sempit jalanan jembatan tersebut.

Sedari tadi aku mendengar suara sengau bak terompet klakson bus. Tapi yang ini agak harmonis dan seperti irama yang dimainkan. Hmm..sepertinya ada yang bermain terompet. Aku memastikannya lebih jelas, saat langkhaku sudah mencapai lantai jembatan. Jauh di tengah, seorang ibu dengan gaya khas bak pro meniup terompet sejenis saxophone. Suara sengau yang keluar dari alat musik itu, membawaku larut dalam angan. Ditambah semilir angin memaikan cardiganku yang sengaja tak kukancing. Pikirku, ada sebuah sajian jazz yang lumayan untuk dinikmati sejenak. Enak karena blues banget (halagh..ngarti gak blues).. suatu saat aku ingin dia memainkan lagu favoritku. Ya lagu-lagu kenny g dan dave koz. Angan itu bermain di benakku. Sambil menyimpan uang seikhlasnya di tempat uang ibu saxophonist itu, aku beranjak pergi sambil sesekali menoleh ke ibu itu. Rasa kagum memenuhi dadaku. Dia pasti seorang pejuang keluarga. Mengamen di belantara jakarta yang keras ini. beruntunglah ibu itu masih punya keterampilan memainkan saxophone, sehingga gaya mengamennya cukup unik dan mempunyai daya
jual yang pantas dihargai.

Aku masih mendengar sayup-sayup bunyi saxophone saat masih di bawah jembatan. “berhentiah sejenak ibu, istirahatlah dan bermainlah lagi jika sudah ada yang lewat jembatan” gumamku dalam hati. Bus jurusan ke arah kost sudah datang. Aku naik dan duduk di tempat yang agak kosong. Malam itu agak ramai dan macet di jalur yang kulalui. Agaknya sebagian besar pekerja yang tinggal di Jakarta ingin memanfaatkan long weekend akibat pemilu ini. jalananpun sesak dan Bus melaju lambat bak siput. Dua orang pengame muda dengan modal masing-masing memegang gitar. Salah satunya mulai berbasa basi dengan khas pengamen. “selamat malam bapak ibu, kami di sini berdiri untuk menghibur bapak ibu….bla..bla..bla “ hingga kemudian petikan gitar mulai memenuhi seisi bus yang memang agak kosong. Satunya memainkan instrument dan yang lainnya memainkan melodi. Lumayan menurutku. Pikirku pasti lagu yang ingin dibawakan ini adalah lagu wajib pengamen seperti lagu-lagu dari band ST12 yang sedang naik daun itu. Tiba-tiba jeda sejenak petikan gitar mereka, vokalis salah satu dari mereka mulai masuk dengan bait “sekian lama, aku menunggu, untuk kedatanganmu…bukankah engkau telah berjanji, kita jumpa di sini, datanglah …kedatanganmu kutunggu..”. wah larinya ko jadi dangdut neeh. Menunggu. Tapi asik juga. Emang sih lagu ini sekarang agak naik daun lewat aransemen ulang band sonet 2009nya Kak ridho rhoma (istilah anak muda tetanggaku di kampung). Aku menikmatinya, sebab permainan gitarnya dan vokalnya emang asik didengar. Goyang..? ah bus ini sudah cukup goyang kok. Kadang melaju kencang. Tapi tiba-tiba ngerem, membuat seisi bus menjadi otomatis goyang.

Hanya sebuah lagu yang dimainkan oleh para pengamen itu. Aku sendiri kembali melamun sambil mengamati sisi jalanan yang macet. Aku menunggu cukup lama di atas bus hingga aku bisa sampai di halte tempatku biasa turun.