Suatu malam aku pulang dari kantor, saat suasana masih cukup ramai, jam menunjukkan pukul 7 di malam hari. Gegas aku jalan selepas keluar dari lift dan segera kumenuju ke jembatan penyeberangan. Jembatan yang juga berfungsi sebagai shelter busway tersebut cukup panjang dan melelahkan untuk didaki. Mungkin juga karena aku sudah kecapean seharian di kantor. Sesekali di beberapa sisi jembatan, pengemis dan pedagang kaki lima menghiasi lorong sempit jalanan jembatan tersebut.
Sedari tadi aku mendengar suara sengau bak terompet klakson bus. Tapi yang ini agak harmonis dan seperti irama yang dimainkan. Hmm..sepertinya ada yang bermain terompet. Aku memastikannya lebih jelas, saat langkhaku sudah mencapai lantai jembatan. Jauh di tengah, seorang ibu dengan gaya khas bak pro meniup terompet sejenis saxophone. Suara sengau yang keluar dari alat musik itu, membawaku larut dalam angan. Ditambah semilir angin memaikan cardiganku yang sengaja tak kukancing. Pikirku, ada sebuah sajian jazz yang lumayan untuk dinikmati sejenak. Enak karena blues banget (halagh..ngarti gak blues).. suatu saat aku ingin dia memainkan lagu favoritku. Ya lagu-lagu kenny g dan dave koz. Angan itu bermain di benakku. Sambil menyimpan uang seikhlasnya di tempat uang ibu saxophonist itu, aku beranjak pergi sambil sesekali menoleh ke ibu itu. Rasa kagum memenuhi dadaku. Dia pasti seorang pejuang keluarga. Mengamen di belantara jakarta yang keras ini. beruntunglah ibu itu masih punya keterampilan memainkan saxophone, sehingga gaya mengamennya cukup unik dan mempunyai daya
jual yang pantas dihargai.
Aku masih mendengar sayup-sayup bunyi saxophone saat masih di bawah jembatan. “berhentiah sejenak ibu, istirahatlah dan bermainlah lagi jika sudah ada yang lewat jembatan” gumamku dalam hati. Bus jurusan ke arah kost sudah datang. Aku naik dan duduk di tempat yang agak kosong. Malam itu agak ramai dan macet di jalur yang kulalui. Agaknya sebagian besar pekerja yang tinggal di Jakarta ingin memanfaatkan long weekend akibat pemilu ini. jalananpun sesak dan Bus melaju lambat bak siput. Dua orang pengame muda dengan modal masing-masing memegang gitar. Salah satunya mulai berbasa basi dengan khas pengamen. “selamat malam bapak ibu, kami di sini berdiri untuk menghibur bapak ibu….bla..bla..bla “ hingga kemudian petikan gitar mulai memenuhi seisi bus yang memang agak kosong. Satunya memainkan instrument dan yang lainnya memainkan melodi. Lumayan menurutku. Pikirku pasti lagu yang ingin dibawakan ini adalah lagu wajib pengamen seperti lagu-lagu dari band ST12 yang sedang naik daun itu. Tiba-tiba jeda sejenak petikan gitar mereka, vokalis salah satu dari mereka mulai masuk dengan bait “sekian lama, aku menunggu, untuk kedatanganmu…bukankah engkau telah berjanji, kita jumpa di sini, datanglah …kedatanganmu kutunggu..”. wah larinya ko jadi dangdut neeh. Menunggu. Tapi asik juga. Emang sih lagu ini sekarang agak naik daun lewat aransemen ulang band sonet 2009nya Kak ridho rhoma (istilah anak muda tetanggaku di kampung). Aku menikmatinya, sebab permainan gitarnya dan vokalnya emang asik didengar. Goyang..? ah bus ini sudah cukup goyang kok. Kadang melaju kencang. Tapi tiba-tiba ngerem, membuat seisi bus menjadi otomatis goyang.
Hanya sebuah lagu yang dimainkan oleh para pengamen itu. Aku sendiri kembali melamun sambil mengamati sisi jalanan yang macet. Aku menunggu cukup lama di atas bus hingga aku bisa sampai di halte tempatku biasa turun.









